Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Cari Tahu

Hustle Culture di Kalangan Gen Z: Kalau Kerja Bisa dari Mana Saja, Istirahat Kapan?

Hustle culture membuat kesibukan seolah menjadi standar kesuksesan. Di tengah tren work from anywhere, Gen Z justru berisiko kehilangan waktu istirahat.

Ilustrasi work from anywhere.
Ilustrasi work from anywhere. (Foto: Polina Zimmerman/Pexels)

Baru duduk di busway udah langsung buka laptop, atau masih bisa jawab chat customer waktu lagi desak-desakan di KRL, bahkan ada yang sibuk dikejar deadline waktu lagi nongkrong di kafe? Siapa yang familiar dengan kondisi tersebut?

Tak bisa dipungkiri, teknologi telah mengubah cara kita bekerja. Jika dulu bekerja identik dengan harus datang ke kantor, sekarang kita mengenal konsep work from anywhere (WFA) yang memungkinkan seseorang menyelesaikan pekerjaan dari berbagai tempat, selama tetap terhubung dengan internet.

Kedengarannya menyenangkan, bukan? Bisa bekerja sambil bepergian, mengatur jadwal sendiri, bahkan tidak perlu terjebak rutinitas kantor setiap hari.

Iklan

Namun, ada paradoks di balik fleksibilitas tersebut. Ketika pekerjaan bisa dilakukan dari mana saja, seseorang justru bisa merasa harus bekerja setiap saat.

Inilah salah satu wajah hustle culture yang semakin dekat dengan kehidupan Gen Z. Alih-alih menikmati kebebasan mengatur waktu, sebagian pekerja justru sulit memisahkan waktu kerja dengan kehidupan pribadi.

Apa Itu Hustle Culture?

Mengutip dari Workhuman, hustle culture merupakan pola pikir yang mendorong seseorang untuk terus bekerja lebih keras, menambah jam kerja, dan mengesampingkan kebutuhan pribadi demi mencapai kesuksesan.

Dalam budaya ini, kesibukan seringkali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Semakin banyak pekerjaan yang diselesaikan, semakin tinggi pula anggapan bahwa seseorang merupakan pribadi yang produktif.

Masalahnya, budaya ini bisa membuatmu jadi merasa bersalah ketika kamu tidak melakukan apa-apa. Misalnya, saat teman mengajak nongkrong, pikiran masih tertuju pada pesan dari atasan yang belum dibalas.

Bahkan, ada perasaan takut dianggap tidak profesional hanya karena tidak merespons pesan pekerjaan di luar jam kantor. Tanpa disadari, pekerjaan perlahan mengambil ruang yang seharusnya menjadi milik kehidupan pribadi.

WFA Kok Kerja Terus?

Salah satu hal menarik dari dunia kerja saat ini adalah semakin fleksibelnya tempat seseorang bekerja. Tidak sedikit pekerja yang membuka laptop di transportasi umum, mengerjakan tugas dari kafe, atau tetap menyelesaikan pekerjaan ketika sedang berada di luar rumah.

Fleksibilitas ini tentu memberikan keuntungan. Seseorang tidak harus selalu berada di kantor untuk menyelesaikan tanggung jawabnya.

Namun, kemudahan mengakses pekerjaan juga membuat batas waktu kerja semakin kabur. Ketika laptop dan ponsel selalu ada dalam jangkauan, pekerjaan terasa bisa diselesaikan kapan saja.

Waktu perjalanan yang seharusnya digunakan untuk beristirahat bisa berubah menjadi kesempatan mengejar tenggat. Waktu makan siang dipakai untuk membalas email, sementara malam hari masih diisi dengan pekerjaan yang belum selesai.

Akhirnya, konsep bekerja dari mana saja perlahan berubah menjadi bekerja kapan saja. Di sinilah hustle culture menjadi persoalan; fleksibilitas yang seharusnya memberikan kebebasan justru berpotensi menciptakan tekanan untuk selalu tersedia dan produktif.

Gen Z dan Obsesinya

Di tengah persaingan dunia kerja, keinginan untuk berkembang dan memiliki penghasilan lebih tentu bukan sesuatu yang salah.

Banyak anak muda yang tidak hanya mengandalkan pekerjaan utama, tetapi juga menjalankan side hustle seperti menjadi kreator konten, membuka bisnis kecil, hingga mengambil pekerjaan lepas.

Namun, tekanan bisa muncul ketika semua aktivitas tersebut harus dijalankan bersamaan.

Media sosial juga kerap memperlihatkan gambaran kehidupan produktif yang terlihat sempurna. Ada yang membagikan rutinitas bangun pagi, bekerja seharian, berolahraga, menjalankan bisnis, hingga tetap memiliki waktu untuk bersosialisasi.

Melihat pencapaian orang lain terkadang membuat seseorang merasa harus melakukan hal serupa.

Padahal, setiap orang memiliki kapasitas, kondisi finansial, dan perjalanan karier yang berbeda. Tidak semua waktu luang harus diisi dengan pekerjaan, dan tidak semua hobi harus menghasilkan uang.

Jika terus memaksakan diri, kebiasaan mengejar produktivitas tanpa jeda bisa berujung pada kelelahan fisik maupun mental.

Menikmati Hidup

Menghindari hustle culture bukan berarti harus menjadi malas atau kehilangan ambisi. Bekerja keras tetap penting, tetapi memahami batas kemampuan diri juga tidak kalah penting.

Kamu bisa mulai dengan menetapkan batas waktu kerja, tidak selalu merespons pesan kantor di luar jam kerja, dan menyediakan waktu khusus untuk beristirahat.

Jika pekerjaan sudah selesai, tidak ada salahnya menutup laptop dan menikmati waktu bersama teman atau keluarga tanpa merasa bersalah.

Sebab, fleksibilitas kerja seharusnya membuat kehidupan lebih mudah diatur, bukan membuat pekerjaan hadir dalam setiap bagian kehidupan.

Pada akhirnya, kesuksesan bukan hanya tentang seberapa banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam sehari. Ada kesehatan, hubungan sosial, dan waktu untuk diri sendiri yang juga perlu dijaga.

Jadi, kalau hari ini kamu memilih menutup laptop lebih cepat untuk beristirahat, bukan berarti kamu kalah produktif. Bisa jadi, kamu justru sedang belajar bekerja dengan lebih sehat.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial

  • Editor

    Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.