Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera (Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara) semakin menunjukkan dampak yang memilukan.
Dalam laporan resmi yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Senin 8 Desember 2025 pukul 08.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia kini mencapai 929 orang. Selain itu, 274 warga masih dinyatakan hilang, sementara 5.000 orang mengalami luka-luka.
Banjir besar ini berdampak pada 52 kabupaten/kota di Sumatera. Total 148.100 rumah rusak dalam bencana tersebut.
BNPB juga mencatat kerusakan besar pada sejumlah fasilitas penting 1.200 fasilitas umum, 199 fasilitas kesehatan, 534 fasilitas pendidikan, 420 rumah ibadah, 234 gedung pemerintahan/perkantoran, dan 405 jembatan yang putus atau rusak parah.
Pesepak Bola Aceh Turut Jadi Korban Bencana
Tidak hanya masyarakat umum, sejumlah atlet sepak bola asal Aceh juga ikut merasakan dampak besar dari bencana ini.
Fajar Firdaus, mantan pemain Persija Jakarta yang kini membela Persiraja Banda Aceh, mengaku mengalami imbas meski tidak separah wilayah lainnya.
Ia menyebutkan bahwa listrik sempat padam total di Banda Aceh. Namun pada Jumat 6 Desember 2025, aliran listrik mulai kembali normal.
Kemarin sempat mati total, tapi sekarang listrik sudah menyala. Sinyal juga berangsur membaik,”
Fajar kepada owrite.id.
Rumah Hancur, Terpaksa Mengungsi
Dua pemain Persiraja lainnya, Muharir dan Muammar, menghadapi situasi yang lebih memprihatinkan. Keduanya berasal dari daerah yang terdampak paling parah di Aceh Timur.
Muammar menjelaskan bahwa keluarganya yang tinggal di Idi Rayeuk selamat dan kini berada di lokasi pengungsian.
Ini bencana terbesar yang pernah kami alami. Alhamdulillah keluarga saya selamat, tapi rumah hancur total,”
Muammar.
Muharir yang berasal dari Tanjong Ceungai, Panton Labu, juga menceritakan kondisi serupa.
Sinyal mulai ada, alhamdulillah keluarga selamat. Tapi rumah rusak parah, lumpur masuk sampai ke dalam,”
Muammar.
hingga saat ini, BNPB memastikan proses evakuasi, pencarian korban, serta pemulihan akses menuju wilayah terisolasi terus dipercepat.
Pemulihan listrik, komunikasi, jembatan darurat, dan pendirian posko bantuan menjadi fokus utama untuk memastikan seluruh kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi.


