Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui data dampak banjir bandang dan tanah longsor di Pulau Sumatera.
Hingga Sabtu, 20 Desember 2025 pukul 07.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 1.071 jiwa.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa jumlah korban meninggal bertambah tiga orang dibandingkan data sehari sebelumnya.
“Total korban jiwa naik dari 1.068 menjadi 1.071 orang,”
Muhari dalam keterangan resminya kemarin.
Penemuan korban terbaru berasal dari Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kabupaten Langkat di Sumatera Utara. Selain itu, satu jenazah tambahan ditemukan di Sumatera Barat dan masih dalam identifikasi.
Ratusan Orang Masih Hilang
Meski jumlah korban hilang mengalami sedikit penurunan, BNPB mencatat 185 orang masih masuk dalam daftar pencarian orang. Angka ini hanya berkurang lima orang dari laporan sebelumnya.
Jumlah warga yang masih dicari turun dari 190 menjadi 185 orang,”
Muhari.
Kondisi ini menandakan bahwa proses evakuasi dan identifikasi korban masih memerlukan waktu panjang.
BNPB juga melaporkan adanya penurunan jumlah pengungsi, meski skalanya tetap sangat besar. Dari sebelumnya 537.185 jiwa, kini tercatat 526.868 orang masih bertahan di lokasi pengungsian.
Penurunan tersebut sebagian besar disebabkan oleh warga yang nekat kembali ke rumah masing-masing, meskipun kondisi lingkungan belum sepenuhnya aman.
Operasi SAR Terhambat Medan dan Cuaca
Hingga kini, operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) masih berlangsung intensif di seluruh wilayah terdampak Sumatera Utara: 4 sektor pencarian, Sumatera Barat: 5 sector, dan Aceh: 6 kabupaten.
Tim SAR menghadapi tantangan besar berupa medan sulit, cuaca yang tidak menentu, serta akses jalan yang rusak parah, sehingga memperlambat proses evakuasi.
BNPB mengungkapkan bahwa 27 kabupaten/kota masih berada dalam status perpanjangan tanggap darurat. Hal ini menunjukkan bahwa fase krisis belum terlewati dan kebutuhan dasar masyarakat masih sangat mendesak.
Distribusi logistik, layanan kesehatan, serta perlindungan kelompok rentan masih menjadi prioritas utama di lapangan.
Mitigasi dan Kerusakan Lingkungan
Lonjakan korban jiwa dalam bencana ini memicu kritik luas terhadap sistem mitigasi bencana dan pengelolaan lingkungan di kawasan rawan.
Sejumlah pihak menilai tragedi ini tidak semata-mata disebabkan faktor alam, melainkan juga akibat alih fungsi lahan, kerusakan hutan, serta lemahnya pengawasan pembangunan di daerah rawan banjir dan longsor.
Dengan jumlah korban yang terus meningkat, bencana ini tercatat sebagai salah satu tragedi paling mematikan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Masyarakat kini berharap pemerintah tidak hanya menyajikan laporan statistik, tetapi juga menghadirkan kebijakan konkret untuk memperbaiki tata kelola lingkungan dan memperkuat mitigasi bencana. Langkah nyata tersebut dinilai krusial agar tragedi serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.


