Berdasarkan laporan terkini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 31 Desember 2025 pukul 09.00 WIB, bencana banjir yang melanda wilayah Sumatera telah menelan 1.141 korban meninggal dunia. Selain itu, 163 orang masih dalam status hilang dan terus dilakukan pencarian.
Jika dilihat berdasarkan wilayah, Provinsi Aceh menjadi daerah dengan jumlah korban jiwa tertinggi.
BNPB mencatat 514 orang meninggal dunia, sementara 31 warga lainnya masih belum ditemukan akibat terjangan banjir besar.
Di Sumatera Barat, jumlah korban meninggal dunia tercatat 262 orang, dengan 72 orang dilaporkan hilang. Sementara itu, Sumatera Utara mencatat 365 korban jiwa, dan 60 orang masih dalam pencarian.
ISPA Penyakit Dominan di Pengungsian
Selain korban jiwa, bencana banjir ini juga memicu krisis kesehatan di lokasi pengungsian. Hingga 30 Desember 2025,
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit paling banyak diderita pengungsi dengan total 42.764 kasus di seluruh wilayah terdampak.
Di Provinsi Aceh, BNPB mencatat ISPA: 16.112 kasus, Penyakit kulit: 12.705 kasus, Diare: 2.569 kasus, Influenza Like Illness (ILI): 1.826 kasus. Selain itu, juga ditemukan Suspek demam tifoid: 291 kasus, Suspek campak: 24 kasus, Suspek dengue: 13 kasus, Suspek leptospirosis: 1 kasus, dan Situasi Kesehatan Pengungsi di Sumatera Utara.
Di Sumatera Utara, jumlah pengungsi yang terserang ISPA mencapai 17.150 orang. Selain itu penyakit kulit: 13.107 kasus, diare: 2.536 kasus, ILI: 1.006 kasus, suspek demam tifoid: 661 kasus, suspek dengue: 12 kasus, suspek campak: 11 kasus, dan suspek leptospirosis: 1 kasus.
Kondisi Kesehatan Pengungsi Sumbar
Sementara di Sumatera Barat, ISPA juga mendominasi dengan 9.502 kasus. Penyakit lain yang banyak diderita pengungsi meliputi Hipertensi: 4.131 kasus, penyakit kulit: 2.983 kasus, gangguan pencernaan: 2.233 kasus, dan demam: 1.975 kasus.
Keluhan tambahan mencakup pegal-pegal (1.509 kasus), reumatik (1.028 kasus), diare (460 kasus), sakit kepala (458 kasus), dan luka-luka (291 kasus).
BNPB Bangun 100 Sumur Bor
Untuk memenuhi kebutuhan dasar para penyintas, BNPB mempercepat pembangunan sumur bor di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Upaya ini bertujuan memastikan ketersediaan air bersih pascabencana.
Tenaga Ahli BNPB Brigjen TNI Asep Dedi Darmadi menjelaskan bahwa mobilisasi peralatan sumur bor telah dimulai sejak 25 Desember 2025, dengan target pembangunan 100 titik sumur bor di seluruh desa di kecamatan tersebut.
Prioritas penempatan sumur bor berada di lokasi pengungsian, rencana hunian sementara (huntara), serta tempat ibadah dan pesantren, guna memastikan masyarakat terdampak dapat lebih mudah mengakses air bersih,”
ujar Asep.
Enam Sumur Bor Sudah Menghasilkan Air Bersih
Pengeboran dilakukan hingga kedalaman sekitar 40 meter. Hingga 29 Desember 2025, dari 10 titik sumur yang telah rampung, 6 di antaranya sudah mengeluarkan air bersih dan dapat dimanfaatkan warga.
Ia menambahkan, air membutuhkan waktu sekitar 30 menit hingga benar-benar jernih dan layak digunakan.
Melalui kerja sama antara BNPB, TNI, dan masyarakat setempat, pembuatan sumur bor dapat berjalan meskipun dihadapkan dengan kondisi lumpur yang cukup tebal. Pembersihan material lumpur di wilayah terdampak juga terus dilakukan secara simultan sehingga pengerjaan dapat dilaksanakan secara bertahap,”
tutur Asep.
BNPB juga mengajak para kepala desa untuk menjaga keberlanjutan fungsi sumur bor. Jika terjadi kerusakan, masyarakat diminta segera berkoordinasi dengan Koramil 29/Langkahan.
Kepala Gampong Rumoh Rayeuk, Mukhtar, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran fasilitas tersebut.
Keberadaan sumur bor tersebut sangat membantu pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warga terdampak, terutama setelah banjir bandang yang melanda Aceh Utara menyebabkan sejumlah sumur dan sumber air bersih tertutup material lumpur,”
ujar Mukhtar.
Selain sumur bor, pemenuhan air bersih juga diperkuat oleh TNI Angkatan Darat, termasuk satuan Zeni dan Mabes TNI.
Dua unit mobil Reverse Osmosis (RO) kini telah beroperasi di Kecamatan Langkahan untuk mengolah air kotor menjadi air bersih siap konsumsi.


