Polda Banten telah menyiapkan strategi terpadu untuk mengantisipasi lonjakan volume kendaraan yang mengarah ke Pelabuhan Merak.
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengatakan, pihaknya mengandalkan sistem penundaan kendaraan (delaying system) dan optimalisasi kawasan penyangga (buffer zone) guna memastikan arus lalu lintas tetap terkendali. Peninjauan kesiapan ini dilakukan langsung kepolisian pada Senin malam, 16 Maret 2026.
Langkah prioritas yang disiapkan ialah pemberlakuan delaying system di ruas jalan tol. Sistem ini akan diaktifkan apabila kantong parkir di area pelabuhan menyentuh kapasitas maksimal.
Formula kami mengatasi peningkatan, yaitu menyiapkan berbagai macam pola sistem. Pertama, adalah delaying system. Kami berkoordinasi dengan petugas-petugas di Korlantas Mabes Polri bersama anggota yang ditugaskan di Kilometer 43 maupun 68,”
kata Hengki dalam keterangan tertulis, Selasa, 17 Maret 2026.
Kepolisian juga telah memetakan sejumlah kawasan penyangga dengan daya tampung yang masif. Skema penempatan ini dibagi berdasarkan jenis pelabuhan dan golongan kendaraan:
- Wilayah ASDP Merak: Disiapkan kantong parkir di kawasan Indah Kiat yang mampu menampung hingga 2.000 kendaraan pemudik;
- Pelabuhan BBJ: Dikhususkan bagi kendaraan bermuatan berat (sumbu 3 golongan 7, 8, dan 9). Kepolisian menyiapkan lahan di PT BAM atau SMI dengan kapasitas tampung mencapai 4.000 kendaraan;
- Pelabuhan Ciwandan: Dikhususkan untuk kendaraan golongan 5 dan 6B. Petugas memanfaatkan lahan di Holcim dengan kapasitas 200 kendaraan, serta area Helipad yang mampu menampung 300 kendaraan.
Dalam skenario terburuk, ketika seluruh buffer zone penuh, Polri bakal menerapkan skema antrean darurat. Petugas akan mengarahkan kendaraan untuk memanfaatkan sisi kiri Jalan Lingkar Selatan sebagai area antrean sementara.
Perihal penumpukan kendaraan di Jalur Lingkar Selatan, nantinya dalam bentuk manajemen antrean, bukan ketika insiden kemacetan total. Kendaraan yang diarahkan ke Jalan Lingkar Selatan yakni dalam posisi terparkir dengan aman untuk menunggu giliran naik ke atas kapal secara tertib.
Prediksi Arus
Kementerian Perhubungan memprediksi pergerakan terbesar pemudik berasal dari Jawa Barat yakni 30,97 juta orang, diikuti DKI Jakarta (19,93 juta) dan Jawa Timur (17,12 juta). Sedangkan dari sisi tujuan, arus terbesar mengarah ke Jawa Tengah sebesar 38,71 juta orang, disusul Jawa Timur (27,29 juta) dan Jawa Barat (25,09 juta).
Angka tersebut berdasarkan hasil survei nasional yang dilakukan Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan. Prakiraan total pergerakan masyarakat selama masa Angkutan Lebaran 2026 adalah 50,60 persen penduduk atau 143,91 juta orang.
Asal perjalanan didominasi wilayah padat penduduk seperti Jakarta Timur, Kabupaten Bogor, serta Kabupaten Bekasi. Sedangkan tujuan banyak terkonsentrasi di kabupaten di Jawa Tengah. Daerah asal pergerakan masyarakat Jabodetabek terbesar ialah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Tangerang. Sementara itu, provinsi tujuan favorit masyarakat Jabodetabek ialah Jawa Tengah.
Pemerintah juga telah mempersiapkan sarana dan prasarana transportasi pendukung angkutan Lebaran, di antaranya 31 ribu unit bus dengan kapasitas angkut 1,25 juta penumpang; 829 unit kapal dengan kapasitas angkut 3,26 juta penumpang, dan prasarana 636 pelabuhan laut.
Dilanjutkan dengan transportasi penyeberangan dipersiapkan 255 unit kapal dengan kapasitas angkut 6,15 juta penumpang dan 770 ribu kendaraan melalui 15 lintas penyeberangan dan 29 pelabuhan; 392 unit pesawat dengan 257 bandar udara, serta kereta api mencapai 3.821 unit dengan prasarana 668 stasiun.



