Modifikasi konstruksi dan penempatan 18 unit mobil di dek atas menjadi sorotan dalam analisis teknis kecelakaan KM Virgo Transport 8. 

Pensiunan TNI AL, Joko Indro Wahyono menilai perubahan fungsi dek penumpang menjadi car deck dapat mengubah perhitungan stabilitas kapal secara signifikan.

Menurut Joko, persoalan utama bukan semata-mata jumlah berat kendaraan, tetapi posisi beban yang ditempatkan di bagian atas kapal. Kondisi tersebut menurut analisisnya dapat memengaruhi titik berat kapal dan kemampuan kapal untuk kembali tegak ketika menerima gaya dari gelombang.

Penambahan rampa internal dan dek buatan (mezzanine deck) mengubah konstruksi dasar KM Virgo Transport 8 secara signifikan,”

kata Joko Indro kepada Owrite, Rabu, 23 September 2026.

Ia menjelaskan, dek yang pada rancangan awal diperuntukkan bagi penumpang kemudian dialihkan untuk kendaraan. Perubahan fungsi tersebut, menurutnya, berdampak langsung terhadap kalkulasi stabilitas kapal.

Geladak yang semula dirancang untuk akomodasi penumpang (beban hidup ringan) dialihfungsikan menjadi car deck. Modifikasi ini secara mendasar merusak kalkulasi awal stabilitas kapal,”

ucapnya.

Pilihan EditorSyifa Fauziah

Hari Ketujuh SAR KMP Virgo, Pengangkatan Kapal Mulai Disiapkan

Dalam analisisnya, Joko membandingkan beban penumpang dengan 18 kendaraan yang ditempatkan di dek atas. Beban kendaraan disebut jauh lebih besar dibanding estimasi beban penumpang yang sebelumnya dirancang untuk dek tersebut.

Artinya, terjadi lonjakan beban sebesar 85 persen hingga lebih dari 100 persen di posisi dek tertinggi,”

ungkapnya.

Selain jumlah beban, Joko menyoroti karakter kendaraan sebagai massa padat yang terkonsentrasi pada posisi tinggi. Kondisi tersebut berbeda dengan penumpang yang bebannya lebih tersebar dan dapat bergerak.

Sebaliknya, 18 mobil pribadi merupakan massa padat terpusat (rigid concentrated mass) yang terkonsentrasi di titik tinggi, sehingga potensi menciptakan gaya guling (transverse moment) jauh lebih besar,”

jelasnya.

Menurut Joko, penempatan kendaraan di dek tambahan juga meningkatkan posisi titik berat kapal atau Center of Gravity. Kenaikan titik tersebut dapat memperkecil Metacentric Height atau GM yang berkaitan dengan kemampuan kapal kembali ke posisi tegak.

Kenaikan Titik G memperkecil jarak GM (Metacentric Height), sehingga menggerus sisa gaya penegak (Righting Moment / GZ) kapal yg berfungsi menegakan kapal saat miring terkena gaya dari luar misal gelombang laut,”

paparnya.

Joko kemudian menguraikan kemungkinan terjadinya pergeseran kendaraan apabila sistem pengikat atau lashing gagal ketika kapal mengalami rolling ekstrem.

Saat kapal mengalami rolling ekstrem akibat gelombang, sistem pengikat (lashing) pada mobil-mobil di dek atas lepas (lashing collapse),”

terangnya.

Lanjut analisisnya, pergeseran kendaraan ke satu sisi kemudian dapat memperbesar kemiringan kapal dan menghilangkan kemampuan kapal untuk kembali stabil.

Pergeseran massa ke satu sisi menciptakan momen kemiringan permanen (list moment) yg mematahkan seluruh sisa lengan penegak (Righting Arm / GZ) hingga kapal kehilangan stabilitas positifnya,”

bebernya.

Dalam kesimpulannya, Joko menyebut kecelakaan tersebut tidak semata-mata dapat dilihat sebagai akibat cuaca ekstrem. Ia mengaitkannya dengan kombinasi modifikasi konstruksi, beban kendaraan di dek atas, kemungkinan kegagalan lashing, serta gelombang.

Kombinasi lonjakan bobot ±36 ton di dek atas, kegagalan lashing, dan gelombang 2–3 meter memicu pergeseran massa cepat (rapid cargo shift),”

pungkasnya.

Joko menegaskan, analisis tersebut merupakan kajian teknis independen berbasis OSINT dan pengalaman praktisnya selama 11 tahun berlayar di kapal/KRI. Penyebab resmi kecelakaan tetap menunggu hasil investigasi KNKT.