Proses hilangnya stabilitas KM Virgo Transport 8 disebut berlangsung sangat cepat, dari kemiringan awal 2 derajat hingga mencapai 80 derajat sebelum kapal terbalik. 

Pensiunan TNI AL, Joko Indro Wahyono, menilai kondisi tersebut membuat waktu untuk mengendalikan kapal dan mengevakuasi penumpang menjadi sangat terbatas.

Joko yang menganalisis kecelakaan tersebut dengan pendekatan OSINT dan mengintegrasikan teori stabilitas kapal serta pengalaman 11 tahun berlayar di kapal/KRI, mengatakan transisi kemiringan kapal berlangsung dalam hitungan sekitar dua jam.

Transisi miring dari 2° ke 80° hingga terbalik hanya butuh waktu 2 jam. Pd kemiringan 30°–80°, ditambah hantaman ombak 2–3 meter dan larut malam,”

kata Joko Indro kepada Owrite, Rabu, 23 September 2026.

Pilihan EditorSyifa Fauziah

Hari Ketujuh SAR KMP Virgo, 126 Orang Masih Dicari

Menurut analisis Joko, kondisi kapal semakin sulit dikendalikan ketika kemiringan mencapai puluhan derajat. Posisi lantai anjungan dan lorong kapal ikut menjadi sangat curam, sementara kondisi laut dan waktu kejadian mempersempit peluang evakuasi.

Hal ini secara fisik membuat Kapten/kru hampir mustahil mengendalikan kapal, sekaligus mengunci penumpang di geladak bawah karena waktu tanggap evakuasi habis terpotong,”

ucapnya.

Analisis tersebut juga menjadi konteks dalam menilai isu mengenai dugaan nahkoda turun lebih dulu sebelum seluruh penumpang dievakuasi. Joko menilai informasi tersebut belum dapat disimpulkan sebelum pengusutan dilakukan.

Isu tindakan nahkoda turun duluan sebelum penumpang turun semua bisa benar bisa tidak yang tentunya sambil menunggu pengusutan,”

terangnya.

Dikatakan dia, apabila dugaan tersebut nantinya terbukti, tindakan tegas terhadap nahkoda layak dilakukan. Namun, ia menekankan bahwa kondisi teknis kapal saat mengalami kemiringan ekstrem juga harus menjadi bagian penting dalam pengusutan.

Seandainya benar, sudah selayaknya nahkoda dihukum seberat-beratnya,”

tegasnya.

Joko menggambarkan perubahan kemiringan kapal sebagai persoalan yang terjadi sangat cepat. Berdasarkan analisisnya, kapal mulai miring sekitar pukul 00.00 WIB, kemudian kemiringan memburuk hingga 30 derajat sekitar pukul 01.15–01.30 WIB dan mencapai sekitar 80 derajat pada pukul 01.30–02.00 WIB.

Dengan kondisi tersebut, Joko menilai kapasitas kru untuk mengendalikan kapal maupun menyediakan waktu evakuasi menjadi sangat terbatas. Ia menyebut kondisi kemiringan ekstrem dan hantaman ombak membuat akses di dalam kapal semakin sulit dilalui.

Analisis Joko ini merupakan kajian independen dan bukan hasil investigasi resmi kecelakaan. Ia berharap hasil analisis teknis tersebut nantinya tidak berbeda jauh dengan investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).