Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatra Selatan mendeteksi ada 22.690 titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sana.

Berdasarkan pemantauan menggunakan data Sistem Monitoring Hutan dan Lahan (SIPONGI) Kementerian Kehutanan, periode 1 September hingga 2 Oktober 2026, ditemukan sekitar 10.411 titik panas berada dalam konsesi PBPH/Hutan Tanaman Industri (HTI) dan tersebar pada 18 perusahaan. Sementara 12.279 titik panas lain berada dalam konsesi perkebunan yang tersebar pada 63 korporasi.

Dikutip dari siaran pers WALHI Sumsel, 7 Oktober 2026, berikut perusahaan yang memiliki jumlah titik panas tertinggi dalam karhutla Sumatra Selatan.

10 Perusahaan PBPH/HTI dengan Hotspot Terbanyak

PeringkatPerusahaanJumlah Hotspot
1PT Bumi Mekar Hijau5.960
2PT Sumatera Alam Anugerah795
3PT Paramitra Mulia Langgeng781
4PT Sentosa Bahagia Bersama711
5PT SBA Wood Industries635
6PT Musi Hutan Persada457
7PT Tiesico Cahaya Pertiwi415
8PT Cipta Mas Bumi Subur303
9PT Restorasi Ekosistem Indonesia155
10PT Bumi Persada Permai (SK 337)87

10 Perusahaan Perkebunan dengan Hotspot Terbanyak

PeringkatPerusahaanJumlah Hotspot
1PT Roempoen Enam Bersaudara1.847
2PT Campang Tiga1.676
3PT Bumi Sriwijaya Sentosa1.668
4PT Golden Blossom Sumatera833
5PT Kelantan Sakti714
6PT Dinamika Graha Sarana699
7PT PP Lonsum Indonesia Tbk551
8PT Laras Karya Kahuripan363
9PT Guthrie Pecconina Indonesia343
10PT Russelindo Putra Prima Blok I333

Selain itu, WALHI Sumsel menegaskan titik panas merupakan indikator ada anomali panas sehingga masih membutuhkan verifikasi di lapangan. Keberadaan titik panas di dalam konsesi perusahaan tidak otomatis membuktikan telah terjadi kebakaran maupun menunjukkan perusahaan sebagai pelaku pembakaran.

Meski begitu, WALHI menilai konsentrasi titik panas di wilayah yang berada dalam izin perusahaan perlu segera diverifikasi dan diawasi pemerintah.