Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Daerah

Target 40 Ribu, Kalsel Baru Manfaatkan 200 Kuota SMK Go Global

Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto mengomentari rendahnya pemanfaatan program SMK Go Global di Kalimantan Selatan (Kalsel) saat melakukan kunjungan kerja.

Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto
Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto (Foto: Istimewa)

Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto mengomentari rendahnya pemanfaatan program SMK Go Global di Kalimantan Selatan (Kalsel) saat melakukan kunjungan kerja reses Komisi IX DPR RI di Banjarbaru, Kalsel pada Senin, 12 Oktober 2026.

Edy mengungkapkan Kalsel baru memanfaatkan sekitar 200 kuota program SMK Go Global dari target 40 ribu peserta. Menurutnya, rendahnya partisipasi menunjukkan perlunya penguatan ekosistem penyiapan tenaga kerja di daerah.

Beberapa program pemerintah seperti SMK Go Global, masa satu provinsi hanya baru memanfaatkan 200 orang, dari 40.000 hanya beberapa persen saja. Saya kira PR (pekerjaan rumah) yang beratnya, yang harus diselesaikan,”

ujar Edy Senin, 12 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, salah satu kendala pelaksanaan program tersebut adalah kesiapan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang belum memenuhi standar.

Iklan

Padahal, calon pekerja membutuhkan pelatihan terstruktur, fasilitas asrama, serta kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja internasional.

Persyaratan Program

Karena itu, Edy meminta pemerintah daerah membina LPK agar mampu memenuhi persyaratan program SMK Go Global.

Menurutnya, upaya tersebut perlu melibatkan berbagai institusi, mulai dari LPK, Balai Latihan Kerja (BLK), hingga perguruan tinggi.

Jadi perlu kerja keras dari pemerintah daerah untuk membina para LPK, sehingga dia naik kelas menuju LPK yang dipersyaratkan untuk SMK-nya. Nah, ekosistem itu harus dibangun,”

tegasnya.

Selain kesiapan lembaga pelatihan, Edy juga menyoroti terbatasnya minat masyarakat Kalsel untuk bekerja ke luar negeri pada sektor formal.

Berdasarkan laporan yang diterimanya, jumlah warga Kalsel yang bekerja ke luar negeri tercatat sekitar 400 orang dalam setahun. Ia juga menyinggung masih adanya warga yang memilih jalur nonprosedural atau ilegal.

Edy turut meminta pemerintah memperbaiki pelaksanaan program pemagangan dalam negeri agar lebih sesuai dengan kebutuhan industri.

Menurutnya, pemerintah perlu memetakan jenis pekerjaan dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan perusahaan sebelum menentukan peserta magang.

Semestinya kebutuhan perusahaan-perusahaan Kalsel itu pekerjaan bidang apa saja, berapa orang. Sehingga pemerintah bisa memberi jatah itu,”

kata Edy.

Ia menegaskan, keberhasilan program pemagangan tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang mengikuti pelatihan.

Pemerintah perlu memastikan program tersebut membuka peluang bagi peserta untuk melanjutkan bekerja setelah masa magang selesai.

Maka kami Komisi IX menghendaki target pemagangan ini adalah seberapa banyak peserta magang yang kemudian dilanjutkan bekerja,”

pungkasnya.

Iklan