Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

Dari Puncak Bundaran HI, Greenpeace Teriakkan Krisis Iklim dan Biaya Hidup

Sejumlah aktivis Greenpeace merayap naik ke atas monumen selamat datang Bundaran HI dengan peralatan rescue lengkap sejak Selasa pagi.

Aktivis Greenpeace bentangkan spanduk protes di puncak patung Bundaran HI. (Sumber: Owrite/Rahmat Baihaqi)
Aktivis Greenpeace bentangkan spanduk protes di puncak patung Bundaran HI. (Sumber: Owrite/Rahmat Baihaqi)

Sejumlah aktivis Greenpeace membentangkan spanduk protes di Patung Bundaran HI, Jakarta Pusat, Selasa 20 Oktober 2026. Spanduk tersebut sekaligus menyindir kinerja dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakilnya Gibran Rakabuming Raka. 

Berdasarkan pantauan, Owrite.id sejumlah aktivis Greenpeace merayap naik ke atas monumen selamat datang Bundaran HI dengan peralatan rescue lengkap sejak Selasa pagi.

Sambil mendaki, aktivis Greenpeace membentangkan spanduk bertuliskan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup” dibentangkan menghadap ke arah Istana Merdeka di utara, sementara spanduk lainnya bertuliskan “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?” menghadap ke selatan Bundaran Hotel Indonesia.

Iklan

Direspons Masyakarat

Aparat TNI-Polri saat mengamankan spanduk milik Greenpeace di Bundaran HI. (Sumber: Owrite/Rahmat Baihaqi)
Aparat TNI-Polri saat mengamankan spanduk milik Greenpeace di Bundaran HI. (Sumber: Owrite/Rahmat Baihaqi)

Aksi kreatif yang dibentangkan di tengah-tengah jantung ibu kota tersebut mengundang perhatian banyak masyarakat, termasuk TNI dan Polri yang langsung bersiaga di lokasi. 

Mereka terlihat berenang ke kolam bundaran HI dengan baju dinas yang masih melekat di tubuhnya seraya bersiaga aktivis Greenpeace untuk turun.

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Reynold Hutagalung meminta, aktivis Greenpeace meninggalkan patung Bundaran HI dan melepaskan spanduknya. 

Kepada aktivis Greenpeace, jangan membahayakan diri, petugas siap membantu dan melayani,” u

jar Reynold melalui pengeras suaranya, Selasa, 20 Oktober 2026.

Setelah imbauan tersebut, spanduk yang tadinya terbentang dilepaskan ke tengah-tengah kolam kemudian diamankan kepolisian.

Sementara sejumlah anggota Greenpeace yang berada di atas patung, turun satu persatu dengan menggunakan metode flying fox.

Protes soal Abai Krisis Iklim

Relawan pemadam kebakaran berupaya memadamkan api yang membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Relawan pemadam kebakaran berupaya memadamkan api yang membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym.)

Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia Jeanny Sirait menjelaskan, kegiatan aksi kreatif itu tersebut sebagai bentuk protes terhadap pemerintah yang dianggap abai krisis iklim yang belakangan terjadi.

Menurutnya, jutaan warga dipaksa bertahan hidup kala bencana mulai dari banjir bandang yang melanda Sumatera, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap berkepanjangan, hingga cuaca ekstrem.

Greenpeace Indonesia terus menggaungkan suara masyarakat, mendesak Pemerintahan Prabowo-Gibran untuk membuka mata terhadap krisis iklim yang makin memperburuk kualitas hidup masyarakat,”

kata Jeanny dikutip dalam website resmi Greenpeace, Selasa 20 Oktober 2026.

Menurutnya, dampak yang paling dirasakan akibat krisis iklim tersebut dirasakan kelompok pekerja yang hidup dalam kerentanan ekonomi.

Selain cuaca ekstrem, bencana ekologis juga dikatakannya turut mengancam keselamatan dan kesehatan masyarakat. Serta mengganggu sumber kehidupan, menekan pendapatan, dan mendorong kenaikan harga pangan.

Jeanny mencontohkan hal tersebut terjadi dari kabut asap karhutla yang berkepanjangan.

Kabut asap berkepanjangan adalah salah satu contoh nyata bagaimana krisis ekologis membebani kehidupan masyarakat, mulai dari gangguan kesehatan hingga aktivitas ekonomi sehari-hari,”

ujarnya.

Masyarakat Terhimpit Biaya Hidup

Warga membawa bantuan paket sembako dari Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di kompleks Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Ruteng, Manggarai Timur, Kamis (3/9/2026).
Warga membawa bantuan paket sembako dari Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di kompleks Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Ruteng, Manggarai Timur, Kamis (3/9/2026). (ANTARA FOTO/Johanes Viandinando/app/agr)

Di tengah kondisi itu, masyarakat semakin terhimpit oleh kenaikan biaya hidup dan ketidakpastian pekerjaan, termasuk gelombang pemutusan hubungan kerja.

Greenpeace turut menyinggung janji pemerintahan Prabowo-Gibran yang akan menyiapkan 19 juta lapangan kerja hingga kesejahteraan warganya.

Padahal, pemerintahan Prabowo-Gibran berjanji memprioritaskan penciptaan lapangan kerja, ketahanan pangan dan energi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat,”

tegas Jeanny.

Pemerintah gagal untuk menyediakan solusi bagi dampak krisis iklim yang semakin nyata dirasakan dalam kehidupan sehari-hari,”

tutup dia.

Iklan