Kereta api menghubungan tiga negara di Borneo atau Kalimantan kini sedang dikaji untuk dilakukan pembangunan jalur. Kereta ini direncanakan akan dibangun di Ibu Kota Nusantara (IKN) dan menghubungkan Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Pengamat Transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno menilai pembangunan jalur kereta api melintasi tiga negara bisa saja terealisasi. Namun, ia tidak meyakini proyek itu bisa berjalan di era Presiden Prabowo Subianto.
Kalau melihat sekarang kondisinya saya agak pesimis sih, kondisi sekarang lah ya. Pesimis saya (sampai 2029),”
ujar Djoko kepada owrite.
Ia mempertanyakan keseriusan Indonesia dalam rencana pembangunan proyek tersebut. Menurutnya, Indonesia memiliki beban berat untuk merealisasikan proyek kereta yang menghubungkan tiga negara.
Karena menuju IKN itu ada sekitar 500 kiloan ada itu panjangnya, lebih dari 500 kilo dari perbatasan itu. Sementara mereka (Malaysia dan Brunei) nggak begitu jauh,”
jelasnya.
Djoko mengatakan, dengan jarak 500 kilometer dari IKN menuju perbatasan, kesiapan anggaran menjadi catatan. Ia menilai, pemerintahan saat ini tidak lagi fokus pada pembangunan infrastruktur.
Kalau APBN ya tergantung, kalau saya lihat pemerintahan sekarang itu terhadap infrastruktur transportasi itu minim perhatiannya. Tahun akhir ini juga apa prestasinya? Di perhubungan itu banyak melanjutkan yang lalu, tapi nggak membuat yang baru,”
katanya.
Kalau sana (Malaysia dan Brunei) serius, saya tahu. Indonesia ini sejauh mana kesiapan itu terutama menyangkut anggaran. Kalau APBN apa sanggup ya kan, itu 500 kilometer lebih panjangnya ke IKN,”
tambahnya.
Djoko menuturkan, rencana pembangunan kereta yang menghubungkan tiga negara ini sebenarnya tidak memiliki urgensi serius, hanya berupa kerja sama.
Ya proyek kerja sama aja. Karena tadi saya bilang kalau di Indonesia, Indonesia itu membangun jalan perbatasan sampai selesai, nggak selesai-selesai di Kalimantan kok, itu jalan. Apalagi rel membuka akses baru kan,”
katanya.
Nasib Hutan Kalimantan Jika Proyek Terealisasi
Djoko melanjutkan, pembangunan jalur kereta tidak akan mengganggu ekosistem hutan di Kalimantan. Sebab lahan yang digunakan untuk pembangunan jalur hanya selebar 20 meter.
Kalau kereta itu tidak lebar kok. Kalau jalan raya bisa lebar. Kereta itu hanya butuh lebar 20 meter sudah cukup kok. Tidak (mengganggu hutan),”
katanya.
Menurut Djoko, ketiga negara akan diuntungkan bila proyek ini terealisasi. Karena nantinya, banyak pengunjung yang akan datang ke Indonesia menggunakan kereta api.
Saya kira dua-duanya bisa menguntungkan. Di kita berarti kan orang sana akan banyak ke Indonesia, mereka pingin lihat Indonesia dengan naik kereta kan di kita, kalau kita pengen ke sana, lebih mudah naik kereta, enggak usah naik pesawat gitu kan ya,”
imbuhnya.

Adapun kajian pembangunan jalur kereta api ini mencuat dalam keterangan resmi Otorita IKN usai menerima kunjungan kenegaraan dari Menteri Pengangkutan Sarawak, YB Dato Sri Lee Kim Shin, di Kantor Otorita IKN.
Menteri Pengangkutan Sarawak, YB Dato Sri Lee Kim Shin mengatakan Kerajaan Sarawak bersiap meluncurkan maskapai baru Air Borneo pada Januari mendatang. Maskapai ini akan menghubungkan Sarawak dengan sejumlah kota di Pulau Borneo, termasuk membuka jalur langsung menuju Nusantara. Pihaknya juga tengah mengkaji pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Kita dalam pulau yang sama di Borneo. Kami sangat tertarik dengan pembangunan Nusantara, ini adalah masa depan. Sesama di Borneo, kami bangga nantinya seluruh dunia akan datang ke Nusantara. Selain transportasi udara, kami juga sedang mengkaji pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan tiga negara: Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam,”
ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Otorita IKN Bimo Adi Nursanthyasto menyambut positif rencana tersebut. Ia menilai, bila jalur kereta api tersebut terealisasi diperkirakan akan menggerakkan ekonomi Asia Tenggara.
Sebentar lagi Bandara Nusantara akan beroperasi sebagai bandara komersial. Ini akan mempermudah mobilitas dari dan ke IKN. Tidak hanya udara, jika jalur kereta api lintas tiga negara terwujud, ini akan menggerakkan ekonomi Asia Tenggara dan memperlihatkan pada dunia kuatnya dinamika ekonomi kawasan,”
ujar Bimo.
