Inflasi di tiga provinsi terdampak bencana banjir dan longsor yakni Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) mengalami lonjakan pada Desember 2025. Naiknya inflasi di tiga wilayah itu dipicu oleh kenaikan harga komoditas utamanya pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini mengungkapkan, inflasi di Aceh pada Desember 2025 melonjak ke 3,60 persen secara month to month (mtm), dari November 2025 yang mengalami deflasi sebesar 8,67 persen.
Kemudian Sumatera Utara inflasi 1,66 persen dibanding bulan sebelumnya yang deflasi 0,42 persen, dan Sumatera Barat 1,48 persen dari sebelumnya deflasi 0,24 persen.
Untuk Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat ini mengalami inflasi di Desember setelah sebelumnya deflasi di November 2025. Ketiga provinsi ini termasuk dalam kelompok provinsi dengan tingkat inflasi tertinggi,”
ujar Pudji dalam dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin, 5 Januari 2026.
Pudji menjelaskan, kenaikan inflasi di tiga wilayah itu disebabkan kenaikan harga komoditas akibat bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025.
Bila dirinci, inflasi Aceh pada Desember 2025 sebesar 3,60 persen utamanya disumbang oleh beras dengan andil 0,80 persen, bahan bakar rumah tangga dan minyak goreng 0,26 persen, telur ayam ras 0,24 persen, bawang merah 0,24 persen, serta nasi dengan lauk 0,15 persen.
Kemudian untuk Sumatera Utara andil inflasi disumbang oleh cabai rawit sebesar 0,41 persen, bawang merah 0,24 persen, kelapa 0,14 persen, daging ayam ras 0,13 persen, emas perhiasan 0,09 persen, dan kacang panjang 0,07 persen.
Lalu untuk Sumatera Barat andil inflasi berasal dari bawang merah 0,22 persen, cabai rawit 0,18 persen, beras 0,14 persen, daging ayam ras 0,10 persen, kangkung dan emas perhiasan sebesar 0,09 persen.
Penyumbang inflasi terbesar di ketiga wilayah tersebut seperti di Aceh yang utamanya didorong oleh kenaikan harga beras, Sumatera Utara didorong oleh kenaikan harga cabai rawit, serta inflasi di Sumatera Barat utamanya didorong oleh bawang merah,”
imbuhnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik mencatat Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,64 persen secara bulanan atau month to month (mtm), dan secara tahunan year on year (yoy) inflasi 2,92 persen. Secara bulanan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 109,22 pada November 2025 menjadi 109,92 pada Desember 2025
Pada Desember 2025 terjadi inflasi sebesar 0,64 persen secara bulanan atau mtm,”
ujar Pudji.
Pudji menjelaskan, kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar berasal dari makanan minuman dan tembakau sebesar 1,66 persen, dengan andil inflasi 0,48 persen.
Adapun komoditas yang menjadi pendorong terbesar inflasi di Desember 2025 diantaranya cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, ikan segar, dan telur ayam ras.
Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok makanan minuman dan tembakau adalah cabai rawit dengan andil 0,17 persen, daging ayam ras dengan andil sebesar 0,09 persen, bawang merah dengan andil inflasi 0,07 persen, dan ikan segar 0,04 persen, serta telur ayam ras dengan andil inflasi sebesar 0,03 persen,”
jelasnya.
