Alhamdulillah, target kita hari ini, itu mencapai 605,3 ribu barel atau sama dengan 100,05 persen. Jadi target lifting kita, Alhamdulillah mencapai target, bahkan melampaui sekalipun ini sedikit,”
kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 di Jakarta, dikutip Sabtu, 10 Januari 2026.
Bahlil mengingatkan, bahwa terakhir kali target lifting minyak dalam APBN tercapai terjadi pada 2016, dengan capaian sekitar 829 ribu barel per hari. Setelah itu, produksi minyak nasional terus melorot hingga hanya mencapai 580 ribu barel per hari pada 2024.
Pertama itu kenaikan lifting kita itu di 2008, itu karena ada (Lapangan) Banyu Urip. Kemudian 2015-2016, setelah itu tidak pernah lagi lifting kita mencapai target APBN. Alhamdulillah, kali ini kita tercapai,”
ujar Bahlil.
Meski capaian 2025 memberi sinyal positif, tantangan struktural sektor hulu migas belum sepenuhnya teratasi. Pemerintah mematok target ambisius dengan membidik peningkatan lifting migas secara bertahap hingga mencapai 1 juta barel per hari pada 2030. Untuk mengejar target tersebut, Kementerian ESDM menyiapkan sejumlah strategi percepatan.
Salah satunya adalah mempercepat proses perizinan bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Migas yang saat ini masih tertahan di tahapan administrasi. Pemerintah juga mendorong percepatan eksplorasi melalui penawaran 61 wilayah kerja baru kepada pelaku usaha, dengan harapan dapat menemukan cadangan migas baru yang signifikan.
Di sisi teknologi, pemanfaatan metode Enhanced Oil Recovery (EOR) dan horizontal fracking disiapkan untuk mengerek produksi dari lapangan-lapangan eksisting. Selain itu, penyederhanaan regulasi di sektor hulu migas, termasuk evaluasi skema insentif dan integrasi perizinan, menjadi bagian dari upaya menciptakan iklim investasi yang lebih menarik.