Pengadaan dilakukan oleh BUMN, yakni PT Agrinas Pangan Nusantara, guna mendukung program Koperasi Desa Merah Putih.
Rinciannya, sebanyak 35 ribu unit didatangkan dari Mahindra & Mahindra dan 70 ribu unit lainnya berasal dari Tata Motors.
Menurutnya, kebijakan belanja negara seharusnya dirancang untuk mendorong pertumbuhan industri nasional, bukan malah membuka ruang bagi produk impor dalam skala besar.
Belanja negara itu harus menjadi pengungkit ekonomi dalam negeri. Kalau kapasitas produksi kita ada, mestinya itu yang diprioritaskan,”
tutur Darmadi.
Industri Otomotif Nasional Melemah
Legislator Fraksi PDI-Perjuangan tersebut menyampaikan bahwa penjualan mobil domestik mengalami penurunan sekitar 7 persen.
Selain itu, permintaan kendaraan niaga dalam dua tahun terakhir juga tercatat melemah.
Situasi ini, menurut Darmadi, menjadi sinyal bahwa industri otomotif nasional sedang membutuhkan stimulus untuk menjaga keberlangsungan produksi dan tenaga kerja.
Industri kita sedang butuh order. Kalau ada pesanan besar seperti ini, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menjaga utilisasi pabrik dan lapangan kerja,”
ujarnya.
Diproduksi Lokal
Darmadi juga menyoroti potensi dampak ekonomi yang lebih luas apabila produksi kendaraan dilakukan di dalam negeri.
Ia menilai kebijakan tersebut dapat memberikan efek berganda bagi sektor manufaktur, industri komponen, logistik, hingga pelaku UMKM pendukung.
Kalau diproduksi di dalam negeri, efek gandanya jelas. Tenaga kerja terserap, rantai pasok bergerak, industri komponen hidup,”
kata Darmadi.
Sebaliknya, impor dalam jumlah besar dikhawatirkan justru membuat manfaat ekonomi mengalir ke luar negeri dan melemahkan daya saing industri nasional.
Kita jangan sampai kehilangan momentum untuk memperkuat industri sendiri. Kemandirian ekonomi tidak dibangun dari impor yang sebenarnya bisa kita produksi,”
tambahnya.