Kalau menurut saya uncertainty-nya masih cukup tinggi ya. Kita harus lihat dalam beberapa minggu ke depan, terutama seminggu ke depan ini. Jadi kalau ini bisa selesai cepat ya mungkin naiknya nggak akan tinggi lagi gitu ya,”
kata Seto kepada awak media.
Pasar Bereaksi atas Ancaman Gangguan Pasokan
Menurut Seto, kenaikan harga minyak merupakan refleksi dari kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan energi akibat konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Ia memperingatkan, jika ketegangan berlangsung lebih lama, maka volatilitas harga energi bisa semakin tinggi dan kondisi pasar menjadi lebih tidak menentu.
Negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, berpotensi merasakan dampak langsung dari lonjakan harga energi global tersebut.
Seto menyebut Indonesia sebenarnya telah menyiapkan langkah mitigasi sejak awal melalui kebijakan pengurangan ketergantungan pada impor energi, salah satunya melalui program biodiesel yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Kalau kita lihat strateginya Bapak Presiden (Prabowo Subianto) dari awal kan kita sudah coba untuk mengurangi dependensi terhadap impor ya. Salah satunya biodiesel, kebijakannya, dan segala macam. Saya kira itu sudah satu langkah mitigasi. Jadi kita coba kurangi dependensi terhadap minyaknya,”
Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah tekanan harga minyak global.
Harga Minyak Bersifat Global, Risiko Logistik Mengintai
Menanggapi kemungkinan perubahan sumber impor minyak, Seto menegaskan bahwa harga minyak ditentukan oleh mekanisme pasar global, sehingga harga relatif sama terlepas dari negara asal impor.
Namun demikian, ia mengingatkan adanya risiko tambahan dari sisi logistik apabila konflik berdampak pada jalur distribusi strategis dunia, seperti Selat Hormuz.
Kalau harga minyak ditentukan global. Jadi impor dari negara mana pun karena global price, harganya tetap akan sama. Kalau eskalasinya terus dan Selat Hormuz ditutup, itu mungkin cukup problematik,”
ujar Seto.
Lonjakan harga minyak dunia menjadi pengingat pentingnya ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global.
Pemerintah diharapkan terus memperkuat strategi diversifikasi energi dan menjaga stabilitas ekonomi domestik agar dampak krisis global dapat diminimalkan.