Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Migas RI Bertumpu dari Timteng, Perang AS–Israel vs Iran Bakal Ganggu Pasokan Impor?

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, mengatakan Indonesia sudah mengeluarkan jutaan dolar untuk mengimpor minyak dan gas (migas) dari kawasan Timur Tengah.

Pengendara motor antre BBM non subsidi jenis Pertamax di salah satu SPBU kawasan Kuningan, Jakarta
Pengendara motor antre BBM non subsidi jenis Pertamax di salah satu SPBU kawasan Kuningan, Jakarta, Minggu (1/3/2026). PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga BBM non subsidi yang berlaku mulai 1 Maret 2026 yakni harga Pertamax (RON 92) dari Rp11.800 per liter menjadi Rp12.300 per liter, Pertamax Green (RON 95) dari Rp12.450 per liter menjadi Rp12.900 per liter, Pertamax Turbo (RON 98) dari Rp12.700 menjadi Rp13.100 per liter, Dexlite dari Rp13.250 per liter menjadi Rp14.200 per liter, Pertamina Dex dari Rp13.500 per liter menjadi Rp14.500 per liter. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/bar)

Harga minyak dunia kini sudah melambung tinggi mencapai US$82 per barel. Kondisi ini dipicu oleh situasi yang memanas akibat serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel kepada Iran. 

Kondisi ini salah satunya direspons Iran dengan menutup Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur strategis perjalanan global. Pasalnya Selat Hormuz merupakan pintu keluar-masuk utama di negara kawasan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, mengatakan Indonesia sudah mengeluarkan jutaan dolar untuk mengimpor minyak dan gas (migas) dari kawasan Timur Tengah.

Iklan

BPS mencatat, RI paling banyak melakukan impor migas dari Arab Saudi pada Januari 2026. 

Impor migas dari Arab Saudi ini sebesar US$267,4 juta atau kontribusinya 8,44 persen,”

ujar Ateng dalam konferensi pers Senin, 2 Maret 2026.

Lalu, Indonesia juga melakukan impor migas dari Uni Emirat Arab (UEA) senilai US$200,6 juta atau kontribusinya 6,34 persen. Kemudian Qatar sebesar US$1,8 juta, dan kontribusinya 2,58 persen. 

Untuk Mesir itu US$73,4 juta atau kontribusinya 2,32 persen, Oman itu US$7,9 juta kontribusinya 2,14 persen,”

jelasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri berpotensi naik karena memanasnya konflik di Timur Tengah.

Sebab, penutupan Selat Hormuz telah membuat pasokan minyak terganggu.

Otomatis akan naik sama seperti saat perang Ukraina kan naik. Tetapi kan kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat, dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya,”

ujar Airlangga.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur Pelaksana

    Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal