Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas memaksa perusahaan energi Indonesia Pertamina mengambil langkah pengamanan terhadap para pekerjanya di kawasan tersebut.
PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) merelokasi 19 pekerja yang bertugas di Timur Tengah, terdiri dari 11 perwira di Basra, Irak dan 8 pekerja di Dubai, Uni Emirat Arab.
Proses pemulangan pekerja dari Irak menuju Indonesia memakan waktu cukup panjang, bahkan mencapai 14 hari, karena sejumlah bandara internasional di kawasan tersebut sempat ditutup akibat meningkatnya eskalasi konflik.
Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Awang Lazuardi mengatakan, situasi geopolitik yang dinamis memang berdampak terhadap operasional perusahaan di kawasan Timur Tengah.
Geopolitik yang dinamis tentu berpengaruh terhadap operasi kami di Irak. Alhamdulillah berkat koordinasi yang sangat baik antara PIEP, PHE, Pertamina, serta dukungan Kementerian Luar Negeri dan KBRI di sejumlah negara, seluruh pekerja dapat kembali dengan selamat,”
ujar Awang dalam keterangan resmi, Kamis, 12 Maret 2026.
Sementara itu, Direktur Utama PIEP Syamsu Yudha menegaskan, bahwa keselamatan pekerja menjadi prioritas utama perusahaan. Untuk itu, perusahaan menjalankan prosedur keselamatan Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) serta Business Continuity Plan (BCP) secara disiplin.
Menurutnya, perusahaan juga memantau situasi keamanan di kawasan Timur Tengah secara real-time guna memastikan perlindungan optimal bagi seluruh personel.
Kami terus melakukan asesmen contingency plan untuk memastikan rute evakuasi tetap tersedia apabila terjadi penutupan wilayah udara,”
katanya.
Evakuasi Lewat Jalur Darat
Adapun, proses evakuasi dilakukan oleh Pertamina Irak Eksplorasi dan Produksi (PIREP) yang segera mengaktifkan Emergency Response Team (ERT) setelah muncul kabar serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Selain memantau situasi keamanan, tim juga memperkuat koordinasi dengan sejumlah perwakilan diplomatik Indonesia, termasuk KBRI Baghdad, KBRI Kuwait City, KBRI Riyadh, dan KBRI Abu Dhabi, serta Kementerian Luar Negeri RI.
Para pekerja Pertamina di Irak harus menempuh perjalanan darat dari Basra menuju perbatasan Safwan sebelum masuk ke wilayah Kuwait.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Dammam, Arab Saudi, sebelum para pekerja akhirnya dapat terbang menuju Jeddah dan kemudian kembali ke Indonesia. Sebagian pekerja tiba di Jakarta pada 10 Maret 2026, sementara sisanya menyusul sehari kemudian pada 11 Maret 2026.
Langkah cepat Pertamina dalam melakukan evakuasi juga mendapat perhatian dari para diaspora Indonesia yang bekerja di perusahaan minyak internasional lainnya di kawasan tersebut.
Perusahaan juga memastikan keluarga para pekerja memperoleh informasi terbaru dengan menghubungi mereka secara langsung serta menyediakan layanan hotline 24 jam.
Operasi Pertamina di Irak
Perlu diketahui, Pertamina mengelola operasi eksplorasi dan produksi minyak di Irak melalui Pertamina Irak Eksplorasi dan Produksi (PIREP) yang berdiri sejak 2013. Perusahaan tersebut mengelola aset migas di Blok West Qurna-1 Field (WQ-1) yang berlokasi sekitar 50 kilometer barat laut Basra.
Blok tersebut dikenal sebagai salah satu ladang minyak raksasa (super giant field) di dunia. Sejak 2023, Pertamina memiliki 20 persen participating interest di blok tersebut.
Operasi di WQ-1 dijalankan menggunakan skema Technical Service Contract (TSC) yang berbeda dengan Production Sharing Contract (PSC) yang lazim digunakan di Indonesia.
Dalam skema TSC, perusahaan migas dibayar untuk jasa teknis operasional, sementara dalam PSC perusahaan menanggung risiko dan biaya eksplorasi dengan imbal hasil berupa pembagian produksi.
Selain Pertamina, proyek ini juga melibatkan sejumlah perusahaan energi global seperti PetroChina, Basra Oil Company, Itochu, dan OEC sebagai mitra operasi.

