Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan tiga skenario dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kondisi ini sejalan dengan perang yang terjadi di Timur Tengah (Timteng).
Airlangga mengatakan, dalam berbagai skenario yang telah dibuat dengan kenaikan minyak dunia di atas asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang dipatok sebesar US$70 per barel, pergerakan nilai tukar rupiah, dan Surat Berharga Negara (SBN). Defisit APBN berpotensi melebar di atas target 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Jadi artinya dengan berbagai skenario ini defisit yang 3 persen itu sulit kita pertahankan, kecuali kita mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan ekonomi,”
ujar Airlangga dalam Sidang Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 13 Maret 2026.
Airlangga membeberkan, untuk skenario pertama dengan asumsi harga rata-rata minyak dunia sebesar US$86 per barel, dengan nilai tukar rupiah Rp17.000/dolar AS atau di atas asumsi makro yang sebesar Rp16.500.







