Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Perang Timur Tengah Hantam APBN, Pemerintah Wanti-wanti Defisit Bisa Jebol 4 Persen

"Kalau skenario terburuk yang pesimis itu dengan harga US$115 per barel kurs rupiah kita Rp17.500, growth-nya 5,2 persen, surat berharganya 7,2 persen, defisitnya 4,06 persen,"

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik Indonesia-AS di Washington DC, Amerika Serikat
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik Indonesia-AS di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026). Pemerintah Indonesia-AS resmi menandatangani perjanjian perdagangan timbal balik dengan pengenaan tarif sebesar 19 persen terhadap produk-produk asal Indonesia dengan pengecualian khusus bagi produk-produk tertentu seperti tekstil dan garmen. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nym)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan tiga skenario dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kondisi ini sejalan dengan perang yang terjadi di Timur Tengah (Timteng).

Airlangga mengatakan, dalam berbagai skenario yang telah dibuat dengan kenaikan minyak dunia di atas asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang dipatok sebesar US$70 per barel, pergerakan nilai tukar rupiah, dan Surat Berharga Negara (SBN). Defisit APBN berpotensi melebar di atas target 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Jadi artinya dengan berbagai skenario ini defisit yang 3 persen itu sulit kita pertahankan, kecuali kita mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan ekonomi,”

ujar Airlangga dalam Sidang Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 13 Maret 2026.

Airlangga membeberkan, untuk skenario pertama dengan asumsi harga rata-rata minyak dunia sebesar US$86 per barel, dengan nilai tukar rupiah Rp17.000/dolar AS atau di atas asumsi makro yang sebesar Rp16.500. 

Iklan

Kemudian pertumbuhan ekonomi dipertahankan di angka 5,3 persen, dan SBN 6,8 persen, maka defisit APBN akan sebesar 3,18 persen dari produk domestik bruto.

Lalu skenario kedua, dengan harga rata-rata minyak US$97 per barel, dengan nilai tukar rupiah Rp17.300 per dolar AS, pertumbuhan ekonomi 5,2 persen, dan SBN 7,2 persen, maka defisit APBN akan sebesar 3,53 persen. Sedangkan skenario ketiga atau terburuk defisit akan mencapai 4,06 persen.

Kalau skenario terburuk yang pesimis itu dengan harga US$115 per barel kurs rupiah kita Rp17.500, growth-nya 5,2 persen, surat berharganya 7,2 persen, defisitnya 4,06 persen,”

jelasnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur Pelaksana

    Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal