Pernyataan tersebut ia sampaikan di tengah pertempuran antara pasukan AS-Israel dan Iran yang telah memasuki pekan kelima, dengan serangan yang meluas ke seluruh kawasan, meningkatkan risiko terhadap infrastruktur energi, dan memicu lonjakan tajam harga minyak mentah.
Adapun kelompok Houthi di Yaman pada Sabtu menyatakan bahwa mereka telah meluncurkan rudal ke arah Israel, menandai keterlibatan langsung pertama mereka dalam perang AS-Israel melawan Iran.
Dalam sebuah unggahan di X, juru bicara Yahya Saree mengatakan bahwa kelompok tersebut menembakkan sejumlah rudal balistik ke target militer sensitif Israel, sebagai dukungan bagi Iran dan kelompok Hizbullah di Lebanon.
Serangan tersebut menandai eskalasi lebih lanjut dalam konflik yang dimulai dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni mengatakan pasar saham global mulai mencerminkan skenario harga minyak dan suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka panjang, seiring meningkatnya risiko konflik berkepanjangan.
Dia mengingatkan, berlanjutnya penutupan Selat Hormuz dapat memperdalam penurunan pasar dan meningkatkan risiko resesi, dengan ketidakpastian seputar konflik tersebut, termasuk kemungkinan keterlibatan AS yang lebih besar, kemungkinan akan membuat volatilitas tetap tinggi hingga aliran minyak kembali normal.
Kecepatan dan besarnya pergerakan ini menggarisbawahi betapa cepatnya pasar energi menyesuaikan harga risiko geopolitik, menantang upaya sebelumnya untuk menjaga pasar minyak dan obligasi tetap stabil, serta memperkuat risiko gangguan berkelanjutan di Selat Hormuz,”
tulis Yardeni dalam sebuah catatan.