Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) mengkritisi pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, yang menyebut bahwa kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur) yang ditetapkan oleh PT Pertamina (Persero) masih lebih kompetitif dibandingkan negara lain.
Menurut Senior Analis ISEAI, Ronny P Sasmita, klaim tersebut bisa benar secara statistik, tapi juga bisa kurang pas secara ekonomi.
Kata ‘lebih kompetitif’ biasanya dihitung dari harga nominal per liter dibanding negara tetangga, masalahnya pertama, struktur biaya berbeda. Bandara, pajak, dan skema logistik tiap negara tidak apple-to-apple. Kedua, kurs dan daya beli. Harga sedikit lebih murah tapi dalam konteks rupiah dan margin maskapai domestik, bisa tetap terasa mahal. Ketiga, tren kenaikan. Naik sekitar 70 persen adalah problem utamanya, bukan level absolutnya,”
kata Ronny kepada Owrite, Selasa 7 April 2026.
Menurut Ronny, kalau pemerintah hanya bicara ‘lebih murah dari Singapura atau Malaysia’, hal itu merupakan sikap defensive argument, bukan bukti efisiensi. Sementara, para investor dan maskapai lebih peduli pada volatilitas dan prediktabilitas harga, bukan sekadar ranking regional.






