Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menyoroti perubahan formula Harga Patokan Mineral (HPM) bijih nikel yang dinilai berpotensi mendorong lonjakan harga secara signifikan. Dalam kondisi pasar global yang masih kelebihan pasokan, kebijakan ini diperkirakan bisa memicu kenaikan harga hingga 100–140 persen.
Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey, menjelaskan kelebihan pasokan nikel saat ini terutama terjadi di pasar China. Kondisi tersebut menekan harga di sektor hulu hingga menengah, termasuk bijih nikel, nickel pig iron (NPI), hingga nickel sulphate. Penurunan ini terjadi di tengah permintaan yang belum sepenuhnya pulih, khususnya dari industri baterai.
Namun di sisi lain, kita melihat adanya perubahan struktural dari Indonesia melalui kebijakan RKAB dan reformasi HPM yang mulai berlaku April ini. Ini menjadi sinyal bahwa Indonesia tidak lagi sekadar mengikuti pasar, tetapi mulai mengatur keseimbangan suplai dan harga secara aktif,”
ujar Meidy pada Senin, 20 April 2026.
Dampak kebijakan ini langsung terasa di pasar global. Harga nikel di London Metal Exchange (LME) tercatat naik dari US$17.090 menjadi US$17.680 hanya dalam hitungan jam setelah aturan HPM dirilis.





