Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

RI Lirik Filipina untuk Nikel, Bahlil Buka Opsi Kerja Sama Non-Pemerintah

Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tetap fokus memastikan nilai tambah dari komoditas nikel diperoleh di dalam negeri.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan perkembangan sejumlah proyek strategis dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu, 11 Februari 2026.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan perkembangan sejumlah proyek strategis dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu, 11 Februari 2026. (sumber: Setkab.go.id)

Indonesia membuka peluang kerja sama sektor nikel dengan Filipina, meski belum ada kesepakatan resmi antar pemerintah (G2G) hingga saat ini.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, 5 Mei 2026.

Bahlil menjelaskan, Indonesia tengah mendorong hilirisasi dan industrialisasi sebagai strategi utama pengelolaan sumber daya alam, termasuk nikel. Sementara Filipina, dinilai sebagai salah satu negara yang memiliki cadangan nikel, meski tidak sebesar Indonesia.

Iklan

Dalam konteks kerja sama G2G itu tidak ada. Tetapi kalau memang ada B2B yang saling membutuhkan dan saling menguntungkan, saya pikir opsi itu selalu ada,”

kata Bahlil.

Terbuka Skema B2B

Situasi Tambang Nikel di Indonesia. (Sumber: Yayasan Indonesia Cerah)
Situasi Tambang Nikel di Indonesia. (Sumber: Yayasan Indonesia Cerah)

Menurut Menteri ESDM itu, peluang kerja sama justru lebih terbuka melalui skema business to business (B2B). Skema ini dinilai lebih fleksibel dan dapat menyesuaikan kebutuhan industri, terutama dalam rantai pasok bahan baku dan pengembangan hilirisasi.

RI sendiri saat ini merupakan salah satu produsen nikel terbesar dunia dan tengah mempercepat pengembangan industri turunan, seperti baterai kendaraan listrik. Di lain sisi, Filipina juga dikenal sebagai produsen nikel, namun dengan kapasitas yang relatif lebih terbatas.

Bahlil menegaskan, pemerintah tetap fokus memastikan nilai tambah dari komoditas nikel diperoleh di dalam negeri. Karena itu, setiap bentuk kerja sama harus memberikan manfaat ekonomi yang seimbang dan mendukung agenda hilirisasi nasional.

Kalau memang saling membutuhkan dan saling menguntungkan, tentu kita terbuka,”

tutupnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.