Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diperkirakan akan melebar, imbas kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah. Defisit APBN 2026 diperkirakan akan bertambah Rp200 triliun.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, tekanan terhadap fiskal berpotensi meningkat jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut, dan mendorong harga energi tetap tinggi dalam waktu yang lama.
Dampak dari kenaikan harga minyak mentah dan juga pelemahan nilai tukar rupiah itu dalam kondisi asumsi tertentu ini bisa mendorong pelebaran defisit anggaran yang cukup besar,”
ujar Josua dalam media briefing Selasa, 11 Mei 2026.
Josua menjelaskan, berdasarkan simulasi yang dilakukan oleh Bank Permata, bila rata-rata rupiah ada di level Rp17.400 dan harga minyak mentah di US$100 per barel, maka defisit APBN akan bertambah Rp200 triliun.






