Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Pengamat: Cara Prabowo Perbesar Peran Negara Tak Cocok Diterapkan, APBN Masih Defisit

Pemerintah terlalu fokus pada indikator rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai ukuran keamanan ekonomi.

Ilustrasi uang rupiah.
Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Unsplash/Mufid Majnun)

Pengamat Ekonomi, Yanuar Rizky menilai pemerintah saat ini semakin ketergantungan pada utang untuk membiayai berbagai program dan kebijakan ekonomi. Menurutnya, kondisi ini perlu diwaspadai karena keuangan negara sedang menghadapi banyak tekanan.

Yanuar mengungkapkan bahwa, pemerintah terus mendorong berbagai program berskala besar di tengah kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang masih mengalami defisit.

Menurut dia, pendekatan ekonomi yang memperbesar peran negara membutuhkan fondasi penerimaan negara yang kuat. Namun, beban pembayaran bunga dan cicilan utang pemerintah juga terus bertambah.

Iklan

Persoalannya sekarang APBN kita bukan surplus, yang ada defisit,”

ujar Yanuar.

Fokus Jaga Kemampuan Negara Bayar Utang

Ia menilai pemerintah terlalu fokus pada indikator rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai ukuran keamanan ekonomi. Padahal, menurutnya, yang lebih penting adalah kemampuan negara membayar kewajiban utang dari penerimaan negara.

Yanuar mengatakan kondisi ekonomi tidak cukup dilihat dari angka statistik semata, tetapi juga harus dilihat dari kekuatan riil fiskal negara dan daya tahan ekonomi masyarakat.

Yang jelas kita nggak hidup dari statistik, kita hidup dari punya uang apa kagak,”

lanjutnya.
Ilustrasi Uang Rupiah.
Ilustrasi Uang Rupiah. (Sumber: Unsplash/Mufid Majnun)

Pelemahan Rupiah 

Ia juga menyoroti munculnya tekanan pasar terhadap kondisi ekonomi domestik, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap arah kebijakan pemerintah.

Menurut dia, pasar akan bereaksi ketika melihat adanya risiko ketidakpastian ekonomi maupun fiskal. Karena itu, pemerintah diminta tidak menganggap kritik terhadap kondisi ekonomi sebagai bentuk serangan politik.

Selain itu, Yanuar menilai pemerintah perlu membangun komunikasi yang lebih terbuka kepada publik terkait kondisi ekonomi nasional agar tidak memunculkan ketidakpercayaan di masyarakat maupun pasar.

Kan harusnya kan membangun komunikasi ke dalam,”

lanjutnya.

Ia mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan terhadap utang dapat menjadi risiko jika tidak diimbangi dengan penguatan penerimaan negara, stabilitas ekonomi, serta kepercayaan investor dan masyarakat.

Yang penting bukan hanya statistiknya terlihat aman, tapi apakah kemampuan keuangan negara memang kuat,”

kata dia.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Contributor

    Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.