Pada hari yang sama, Trump mengatakan telah membatalkan rencana serangan militer AS terhadap Iran. Hal itu dilakukan karena negosiasi dengan Teheran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan telah mendapatkan persetujuan.
Bantahan
Namun, Teheran membantah klaim Trump. Media yang terafiliasi dengan pemerintah Iran, Fars, melaporkan melalui Telegram bahwa Iran belum menyetujui rancangan awal nota kesepahaman dengan Washington.
Dalam unggahan berikutnya, Fars menggambarkan pengumuman Trump sebagai langkah mundur dari ancaman militernya sebelumnya dan menyatakan Trump tidak menawarkan unsur baru selain proposal yang sebelumnya telah diajukan Iran.
“Faktanya, hingga saat ini Iran tidak hanya belum memberikan respons final, tetapi justru AS yang kembali pada tuntutan sebelumnya. Namun, tampaknya karena AS telah menerima teks yang diusulkan Iran, terdapat kemungkinan untuk meninjau kembali teks tersebut,”
tulis Fars.
BMO Capital Markets mengatakan harga minyak relatif terkendali, meskipun baru-baru ini terjadi saling serang antara AS dan Iran. Menurut lembaga itu, upaya diplomatik yang terus berjalan, tersedianya jalur pelayaran alternatif di sekitar Selat Hormuz, serta penurunan tajam impor minyak mentah China telah membantu meredam risiko geopolitik.
Sementara itu, Citi dalam catatannya pada Jumat, menyebut penurunan tajam impor minyak mentah China sejak awal konflik Timur Tengah turut menahan kenaikan harga minyak, dan mengurangi kekhawatiran terjadinya perebutan pasokan di pasar global.
Bank tersebut memperkirakan China dapat mempertahankan impor sekitar 8,7 juta barel per hari tanpa menguras persediaan secara signifikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan dari China mungkin tidak akan memberikan dorongan besar terhadap harga dalam waktu dekat.