Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Rupiah Amblas ke Rp17.859 dan IHSG Merosot ke 6.101, Pasar Ketar-ketir Nunggu MSCI

Pasar juga terus memantau tentang rentetan persoalan yang menimpa sejumlah perusahaan manufaktur seperti penghentian produksi dan lainnya.

Nasabah melihat pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Nasabah melihat pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/nym.)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak melemah pada penutupan perdagangan Selasa, 23 Juni 2026.

Rupiah anjlok 0,09 persen ke level Rp17.859 per dolar Amerika Serikat (AS) dan IHSG merosot 0,25 persen ke level 6.101.

Untuk nilai transaksi IHSG tercatat Rp32,9 triliun dengan melibatkan 41,5 miliar saham dalam 1,7 juta kali transaksi. Sebanyak 282 saham naik, 160 tidak bergerak, dan 373 turun. 

Iklan

Dilansir dari Stockbit, sejumlah saham yang mengalami penurunan terdalam alias top loser yakni PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) amblas 14,84 persen ke Rp5.450, PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) melemah 14,81 persen ke Rp92, serta PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) anjlok 14,06 persen ke Rp2.200.

Saham Anjlok dan Dijual Asing

Sementara itu, untuk paling banyak dijual asing atau net foreign di antaranya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp261,98 miliar, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) senilai Rp174,65 miliar.

Kemudian PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar Rp110,56 miliar, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar Rp106,14 miliar, serta PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp95,49 miliar.

Penyebab Ambruk

Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan pelemahan rupiah pada hari ini karena pelaku pasar menunggu hasil evaluasi dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). 

“Pelaku pasar menunggu hasil evaluasi MSCI, yakni pasar sempat mengalami tekanan setelah merilis Global Market Accessibility Review yang menurunkan penilaian indikator Information Flow Indonesia dari positif menjadi negatif,”

kata Ibrahim dalam analisisnya.

Selain itu, pasar juga terus memantau tentang rentetan persoalan yang menimpa sejumlah perusahaan manufaktur seperti penghentian produksi, perumahan karyawan, keterlambatan pembayaran gaji hingga relokasi investasi ke negara lain. Kondisi itu dinilai menjadi sinyal melemahnya daya saing industri manufaktur RI. 

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.850-Rp17.900,”

ucap dia.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Asred

    Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.