PT Dairi Prima Mineral (DPM) memastikan proyek tambang bawah tanah timah hitam (Pb) dan seng (Zn) di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, kembali melangkah ke tahap pengembangan setelah mengantongi persetujuan revisi studi kelayakan dan adendum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) pada 2026.
Technical Manager DPM Widianto mengatakan, perjalanan perizinan proyek tersebut telah berlangsung hampir tiga dekade sejak Kontrak Karya ditandatangani pada 1998 sampai 2002 ditemukan endapan timah hitam dan seng dengan kadar yang cukup signifikan. Setelah 28 tahun menanti, perseroan kini bersiap mengembangkan deposit Anjing Hitam tersebut dengan kapasitas pengolahan mencapai 1 juta ton bijih per tahun.
Di mana prospek yang ditemukan tersebut dinamakan prospek anjing hitam,”
kata Widianto dalam diskusi bertemakan Perspektif Sains, Hukum, Teknolog dan Perlindungan Lingkungan yang digelar Editor Energy and Mining Society (E2S), di Jakarta Senin, 27 Juli 2026.
Studi Kelayakan Disusun pada 2004
Menurut dia, studi kelayakan pertama disusun pada 2004 dan AMDAL disahkan pada 2005. Perusahaan kemudian memperoleh Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) seluas 53,11 hektare pada 2012 sebelum melakukan revisi studi kelayakan akibat perubahan lokasi portal tambang, fasilitas penyimpanan tailing, dan gudang bahan peledak.
Widianto menjelaskan pemerintah sempat menyetujui adendum AMDAL pada 2022. Namun, pada 2024 Mahkamah Agung mengabulkan gugatan kelompok masyarakat terhadap persetujuan tersebut sehingga Menteri Lingkungan Hidup mencabut adendum AMDAL pada 2025.
Meski demikian, DPM kembali memperoleh persetujuan revisi studi kelayakan dan adendum AMDAL pada 2026. Sementara Kontrak Karya dan IPPKH perusahaan tetap berlaku hingga 29 Desember 2047.
Cadangan Logam Jutaan Ton
Sementara itu, berdasarkan kajian terbaru yang menjadi dasar revisi studi kelayakan, DPM memiliki dua prospek utama yakni Anjing Hitam dan Lae Jehe.
Untuk sumber daya Prospek Anjing Hitam kami mendapatkan tonase 8,5 juta ton dengan kadar seng 13,8 persen dan kadar timah hitam 7,9 persen. Sedangkan Prospek Lae Jehe memiliki sumber daya 27,9 juta ton dengan kadar seng sekitar 6 persen dan timah hitam 3,7 persen,”
jelas Widianto.
Setelah dilakukan konversi sumber daya menjadi cadangan, Prospek Anjing Hitam memiliki cadangan 7,7 juta ton. Adapun Prospek Lae Jehe memiliki cadangan sekitar 10 juta ton.
Untuk tahap awal kami akan mengembangkan Prospek Anjing Hitam terlebih dahulu, sedangkan Lae Jehe masih akan dilakukan pengeboran lanjutan untuk memperoleh data kadar mineral yang lebih detail,”
ujarnya.
Klaim Gunakan Teknologi Ramah Lingkungan


DPM menegaskan kegiatan penambangan akan dilakukan sepenuhnya dengan metode tambang bawah tanah menggunakan kombinasi longhole stoping dan cut and fill. Melalui metode ini, bekas ruang tambang akan diisi kembali menggunakan material sisa pengolahan atau tailing yang telah diproses.
Material tailing tidak dibuang atau ditempatkan di permukaan, tetapi dipisahkan terlebih dahulu antara cairan dan padatan. Cairannya digunakan kembali dalam proses pengolahan, sedangkan padatannya dicampur semen lalu dipompa kembali ke dalam lubang tambang sebagai backfill material,”
jelasnya.
Menurut Widianto, pemanfaatan tailing sebagai material pengisi kembali telah memperoleh persetujuan teknis dari pemerintah.
Izin untuk pemanfaatan limbah tersebut sebagai backfill sudah kami peroleh dari Kementerian Lingkungan Hidup sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari adendum AMDAL yang telah disetujui,”
katanya.
Bidik Produksi 1 Juta Ton Bijih per Tahun
Pada tahap produksi, DPM menargetkan pabrik pengolahan dengan kapasitas 1 juta ton bijih kering per tahun dari deposit Anjing Hitam. Hasil pengolahan nantinya berupa konsentrat seng, konsentrat timah hitam, dan konsentrat sulfur yang akan dipasarkan ke perusahaan pemurnian atau smelter.
Berdasarkan rencana operasi perusahaan, total produksi konsentrat kering selama masa tambang diperkirakan mencapai 2,43 juta ton dengan kandungan sekitar 473.895 ton timah hitam dan 821.150 ton seng. Angka tersebut menjadikan proyek Dairi sebagai salah satu pengembangan tambang seng dan timah hitam terbesar yang tengah dipersiapkan di Indonesia.

























