PT Indika Energy Tbk. (INDY) membukukan pendapatan US$1,146,9 juta pada Semester I Tahun 2026 atau naik 19,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat US$956,8 juta.
Mengacu pada keterangan resmi perusahaan, dikutip Senin, 3 Agustus 2026, Perseroan juga mencatat laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$10,2 juta, meningkat dari US$2,2 juta pada Semester I 2025.
Kenaikan pendapatan ditopang oleh kontribusi yang lebih tinggi dari Kideco Jaya Agung (Kideco), Tripatra, Interport Mandiri Utama (Interport), dan Indika Indonesia Resources.
Sumber
Kideco mencatat pendapatan US$855,1 juta, meningkat 10,2 persen dibandingkan Semester I-2025.
Pertumbuhan tersebut didukung kenaikan harga jual rata-rata sebesar 6,8 persen menjadi US$54,7 per ton dan peningkatan volume penjualan 2,4 persen menjadi 14,8 juta ton. Merujuk total penjualan tersebut, 6,4 juta ton dipasarkan di dalam negeri dan 8,3 juta ton diekspor.
Perbaikan kinerja itu turut mengerek marjin laba kotor Kideco menjadi 19 persen dari 14,2 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, pendapatan Indika Indonesia Resources melonjak 79,4 persen menjadi US$42,7 juta. Pertumbuhan didorong kenaikan volume perdagangan batu bara sebesar 104 persen menjadi 539 ribu ton dan peningkatan harga jual rata-rata perdagangan batu bara sebesar 51,5 persen menjadi US$72,3 per ton.
Perseroan juga membukukan pendapatan US$3,8 juta dari perdagangan non-batu bara, terutama bauksit.
Di sisi lain, Tripatra membukukan pendapatan US$167,4 juta atau tumbuh 41,3 persen. Kinerja tersebut terutama berasal dari proyek APA Geng North, FEED FPCI Proyek LNG Abadi, proyek Sambar Development, serta jasa project management consultancy untuk Proyek UCC.
Interport juga mencatat pertumbuhan pendapatan 57,9 persen menjadi US$86,7 juta. Kontribusi terbesar berasal dari bisnis perdagangan bahan bakar, selain pendapatan dari Cotrans dan bisnis penyimpanan bahan bakar melalui KGTE.
Seiring peningkatan aktivitas usaha, harga pokok penjualan naik 17,2 persen menjadi US$965,8 juta dari US$824,1 juta, yang dipengaruhi oleh peningkatan cash cost Kideco di luar royalti menjadi US$37,3 per ton dari US$34,2 per ton, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar.
Meski demikian, laba kotor Perseroan meningkat 36,5 persen menjadi US$181,2 juta, sedangkan laba usaha melonjak 82,9 persen menjadi US$99 juta. Marjin laba usaha pun membaik menjadi 8,6 persen dari sebelumnya 5,7 persen.
Kontribusi
Beban penjualan, umum, dan administrasi naik 4,6 persen menjadi US$82,2 juta, terutama dipicu kenaikan biaya pemasaran Kideco dan peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Selanjutnya, kontribusi laba bersih entitas asosiasi meningkat menjadi US$6,9 juta, beban keuangan tetap stabil di level US$34,7 juta, dan Perseroan membukukan rugi selisih kurs US$8,3 juta akibat depresiasi rupiah.
Adjusted EBITDA Indika Energy juga meningkat 43,8 persen menjadi US$139,1 juta dibandingkan US$96,8 juta pada Semester I-2025. Marjin adjusted EBITDA naik menjadi 12,1 persen dari 10,1 persen.
Dalam upaya memperkuat diversifikasi usaha, Perseroan mengalokasikan 99,1 persen dari total belanja modal sebesar US$83,1 juta untuk bisnis non-batu bara. Sebagian besar dana tersebut digunakan untuk pengembangan proyek emas Awak Mas senilai US$71,4 juta.
Hingga 30 Juni 2026, progres konstruksi proyek tersebut mencapai 60,63 persen menuju penyelesaian commissioning tahap kedua, dengan total biaya proyek yang telah dikeluarkan mencapai US$340 juta.
“Kinerja Semester I 2026 menunjukkan penguatan operasional di berbagai lini bisnis, tercermin dari pertumbuhan pendapatan, laba kotor, dan adjusted EBITDA. Pada saat yang sama, alokasi lebih dari 99 persen belanja modal ke bisnis non-batubara, terutama pengembangan proyek Awak Mas, menegaskan disiplin kami dalam membangun portofolio yang lebih terdiversifikasi, resilien, dan berkelanjutan,”
kata Azis Armand, Direktur Utama and Group CEO Indika Energy.
Selain merilis kinerja keuangan, Perseroan juga menyampaikan telah membagikan dividen sebesar US$3.013.598 pada 19 Juni 2026 berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan yang digelar pada 20 Mei 2026.

























