Rencana perusahaan smelter nikel Indonesia di Morowali, Sulawesi Tengah, PT Gunbuster Nickel Industry (GNI), memutus hubungan kerja terhadap sekitar 1.900 pekerja menjadi peringatan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari besaran investasi maupun jumlah tenaga kerja.
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat mengatakan kasus GNI menunjukkan pemerintah perlu mengubah indikator keberhasilan hilirisasi dengan memasukkan aspek keberlanjutan lapangan kerja dan ketahanan industri.
“Kasus PHK di GNI menunjukkan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari besarnya investasi atau jumlah tenaga kerja yang pernah terserap. (Hal) yang jauh lebih penting adalah apakah pekerjaan itu bertahan, layak, dan mampu memberikan kepastian bagi pekerja ketika perusahaan menghadapi tekanan keuangan?”
kata Achmad dalam keterangannya, Senin, 3 Agustus 2026.
Indikator
Selama ini pemerintah lebih banyak menonjolkan capaian investasi dan penyerapan tenaga kerja sebagai indikator keberhasilan hilirisasi. Padahal, indikator tersebut belum menggambarkan kualitas maupun keberlanjutan pekerjaan yang tercipta.






