Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak ditutup menguat pada Jumat, 7 Agustus 2026. Rupiah menguat 0,15 persen ke level Rp17.897 per dolar Amerika Serikat (AS), sedangkan IHSG menghijau 1,04 persen ke 6.409.
Berdasarkan data perdagangan sore ini, nilai tukar negara Asia yang turut menguat diantaranya Yuan Tiongkok (CNY) 0,01 persen, Yen Jepang (JPY) menguat 0,03 persen.
Kemudian Dolar Singapura (SGD) menguat 0,16 persen, Baht Thailand (THB) berotot 0,23 persen, dan Won Korea (KRW) menguat sebesar 0,40 persen terhadap dolar AS.
Penyebab Rupiah Menguat


Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengungkapkan penguatan rupiah didorong oleh data cadangan devisa Indonesia yang masih terjaga pada Juli 2026.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 tetap terjaga sebesar US$145,3 miliar, relatif stabil dibandingkan dengan posisi akhir Juni 2026 sebesar US$145,6 miliar,”
kata Ibrahim dalam analisisnya.
Adapun untuk perdagangan pekan depan, Ibrahim memperkirakan bahwa rupiah akan berada di kisaran Rp17.780 per dolar AS hingga Rp18.020 per dolar AS.
Saham Naik


Di samping itu, nilai transaksi IHSG tercatat sebesar Rp16,4 triliun dengan melibatkan 37,9 miliar saham dalam 2,2 juta kali transaksi. Sebanyak 335 saham naik, 203 tidak bergerak, dan 235 turun.
Dilansir dari Stockbit, sejumlah saham yang mengalami kenaikan tertinggi atau top gainer diantaranya:
- PT Voksel Electric Tbk (VOKS) menguat 35 persen ke Rp270
- PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) naik 25 persen ke Rp1.875
- PT First Media Tbk (KBLV) menguat 24,60 persen ke Rp157
Sementara saham yang paling banyak dibeli asing atau net foreign buy diantaranya:
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp317,72 miliar
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp105,64 miliar
- PT Petrosea Tbk (PTRO) sebesar Rp100,66 miliar























