Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Transaksi QRIS Tumbuh 82,4 Persen, Destry Janjikan Ini Perkuat Perlindungan Konsumen

Digitalisasi melalui transaksi QRIS terus dilanjutkan dan per Juli 2025 transaksi QRIS tumbuh 82,4 persen dengan pengguna sejumlah 67,5 juta.

Ilustrasi penggunaan QRIS untuk pembayaran. (Sumber: Instagram/bank_indonesia)
Ilustrasi penggunaan QRIS untuk pembayaran. (Sumber: Instagram/bank_indonesia)

Calon Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti menyatakan transaksi QRIS tumbuh 82,4 persen dengan jumlah pengguna mencapai 67,5 juta dan merchant 45,5 juta.

Dari total transaksi tersebut, hampir seluruh merchant QRIS merupakan pelaku UMKM. Destry bahkan menyebut 96,7 persen dari total merchant QRIS berasal dari kelompok tersebut.

Digitalisasi melalui transaksi QRIS akan terus dilanjutkan, dan per Juli 2025 transaksi QRIS tumbuh 82,4 persen dengan pengguna sejumlah 67,5 juta dan jumlah merchant 45,5 juta dimana 96,7 persen di antaranya adalah merchant UMKM,”

ucap Destry dalam fit and propert test calon Gubernur BI di Komisi XI DPR RI, Rabu, 26 Agustus 2026.

Pembayaran Digital Meluas

Warga memindai kode QRIS untuk mendapakan suvenir saat edukasi keuangan di pasar malam Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Warga memindai kode QRIS untuk mendapakan suvenir saat edukasi keuangan di pasar malam Kabupaten Kediri, Jawa Timur. (Foto: ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani).

Menurut Destry, pertumbuhan tersebut menunjukkan pembayaran digital semakin menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Namun, semakin luas ekosistem digital, semakin besar pula risiko yang harus diantisipasi.

Iklan

Karena itu, penguatan perlindungan konsumen menjadi salah satu agenda yang ditekankan. Pencegahan fraud dan mitigasi risiko siber disebut akan menjadi prioritas.

Penguatan perlindungan konsumen, pencegahan fraud, dan mitigasi risiko cyber juga akan menjadi prioritas kami,”

ujarnya.

Calon bos BI tersebut menilai digitalisasi pembayaran harus berjalan secara aman, efisien, dan inklusif. Artinya, kemajuan teknologi pembayaran tidak boleh hanya mengejar jumlah transaksi tanpa memperhatikan keamanan masyarakat.

Di sisi lain, ia menegaskan digitalisasi tidak berarti Bank Indonesia akan meninggalkan kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai.

Satu hal, digitalisasi tidak meninggalkan kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai,”

katanya.

Ketersediaan Rupiah 

Karyawan menghitung uang pecahan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Sumber: Antara Foto/Rivan Awal Lingga/nz)
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Sumber: Antara Foto/Rivan Awal Lingga/nz)

Bank Indonesia, lanjut dia, tetap akan memastikan ketersediaan rupiah yang berkualitas dan layak edar di seluruh wilayah Indonesia. Hal tersebut termasuk wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal atau 3T.

Selain sistem pembayaran, pendalaman pasar uang dan pasar valas juga akan dipercepat. Menurut Destry, langkah tersebut ditujukan untuk memperluas sumber pembiayaan pembangunan dan memperkuat ketahanan pasar keuangan domestik.

Destry juga menjanjikan penguatan kebijakan regional melalui 46 kantor perwakilan Bank Indonesia di dalam negeri. Kantor-kantor tersebut akan diperkuat sebagai mitra strategis pemerintah daerah.

Peran tersebut diarahkan untuk mengembangkan potensi ekonomi lokal, mempercepat hilirisasi dan industrialisasi, serta mendorong ekonomi kerakyatan sesuai karakteristik daerah masing-masing,”

jelasnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Rika Pangesti adalah reporter di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu megapolitan dan berita nasional. Berlatar pendidikan Magister Ilmu

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.