Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan biang kerok rupiah tertekan melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada pekan lalu. Padahal, rupiah nyaris menyentuh level Rp17.400 per dolar AS.
Destry mengatakan, dalam beberapa hari terakhir kondisi geopolitik global kembali memburuk, akibat perang antara Iran dan AS. Kondisi ini menyebabkan mata uang Garuda kembali melemah.
Sebenarnya beberapa hari yang lalu kita bahkan sudah di Rp17.500-an dan hampir menembus Rp17.400. Namun demikian gejolak di global memburuk karena perang Iran-Amerika terus makin meningkat, kita agak tertekan dua hari terakhir ini,”
kata Destry dalam rapat kerja bersama Komite IV DPD RI Senin, 14 September 2026.
Masih Bisa Bertahan

Meski mengalami pelemahan, Destry menuturkan bahwa rupiah masih berada dalam level Rp17.600 per dolar AS. Pada perdagangan siang ini, rupiah tercatat masih melemah 0,28 persen ke level Rp17.661 per dolar AS.
Tapi alhamdulillah masih berada di level Rp.17.600-an,”
terangnya.
Adapun untuk tahun depan, Bank Indonesia memproyeksikan nilai tukar rupiah berada dalam kisaran Rp17.300 per dolar AS hingga Rp17.800 per dolar AS.
Berdasarkan data penutupan perdagangan Jumat, 11 September 2026, rupiah tercatat melemah sebesar 0,36 persen ke level Rp17.611 per dolar AS.






