PT Freeport Indonesia (PTFI) memproyeksikan penerimaan negara dari kegiatan pertambangan perseroan mencapai sekitar US$8 miliar atau setara lebih dari Rp140 triliun per tahun mulai 2028. Setoran tersebut diperkirakan meningkat seiring pemulihan produksi tambang Grasberg pasca longsor pada September 2025.
Direktur Utama PTFI Tony Wenas mengatakan penerimaan negara tersebut berasal dari pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dividen, hingga pungutan lainnya.
Di tahun 2028 dan tahun 2029 dan seterusnya diperkirakan akan bisa mencapai US$ 8 miliar atau sekitar Rp120 triliun lebih per tahunnya penerima negara dalam bentuk pajak, PNBP, dividen dan penghutang-penghutang lainnya,”
kata Tony dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, dikutip Rabu, 16 September 2026.
Dengan menggunakan kurs Rp17.676 per dolar AS, proyeksi penerimaan US$8 miliar tersebut setara sekitar Rp141,4 triliun.
Sebelum mencapai angka tersebut, penerimaan negara dari PTFI diproyeksikan meningkat secara bertahap. Pada 2026, Tony memperkirakan setoran kepada negara mencapai US$2,6 miliar atau sekitar Rp45,95 triliun dengan kurs yang sama.
Proyeksi 2026 tersebut menggunakan asumsi harga tembaga US$4,75 per pound dan emas US$4.000 per troy ounce. Adapun harga yang disebut Tony saat ini mencapai sekitar US$6,5 per pound untuk tembaga dan US$4.500 per troy ounce untuk emas.
Pada 2027, penerimaan negara dari PTFI diproyeksikan meningkat menjadi US$4,6 miliar atau sekitar Rp81,3 triliun. Kenaikan tersebut sejalan dengan peningkatan kapasitas produksi bijih tambang.
Produksi Grasberg Digenjot

Produksi bijih pada 2026 diproyeksikan mencapai 124.000 ton per hari, atau sekitar 65 persen dari kapasitas normal sekitar 200.000 ton per hari. Angka tersebut kemudian ditargetkan naik menjadi 170.000 ton per hari pada 2027.
Memasuki 2028, produksi bijih diproyeksikan mencapai 208.000 ton per hari atau mendekati kapasitas normal. Setelah itu, produksi diperkirakan kembali meningkat menjadi lebih dari 220.000 ton per hari pada 2029-2030.
Di tahun 2028 itu akan bisa mencapai 208.000 ton bijih per hari. Selanjutnya di 2029 dan 2030 itu bisa lebih dari 220.000 ton bijih per hari,”
ujarnya.
Produksi Tembaga Naik

Sejalan dengan peningkatan produksi bijih, produksi tembaga dan emas PTFI juga diproyeksikan meningkat. Pada 2026, produksi tembaga diperkirakan mencapai 800 juta pound, sedangkan produksi emas sekitar 700.000 troy ounce atau setara sekitar 21 ton.
Produksi tersebut diproyeksikan naik pada 2027 menjadi 1,3 miliar pound tembaga dan 1 juta troy ounce emas atau sekitar 31 ton.
Mulai 2028, produksi tembaga diproyeksikan mencapai 1,6 miliar pound per tahun. Sementara produksi emas ditargetkan mencapai 1,3 juta troy ounce atau sekitar 39-40 ton per tahun.
Kenaikan tingkat produksi ini sejalan dengan pemulihan Grasberg Block Caving yang longsor di tahun yang lalu,”
imbuhnya.






