PT Freeport Indonesia (PTFI) memproyeksikan produksi emas meningkat signifikan pada 2027 seiring pemulihan aktivitas pertambangan Grasberg Block Cave (GBC). Produksi emas diperkirakan naik dari sekitar 21 ton pada 2026 menjadi 31 ton pada 2027.
Direktur Utama PTFI Tony Wenas mengatakan peningkatan produksi tersebut sejalan dengan mulai beroperasinya Production Block 1 Grasberg Block Caving pada 2027.
Kalau di grafik yang bawahnya, itu kita bisa melihat produksi emas yang akan meningkat tajam di tahun 2027. Ini sejalan dengan Grasberg Block Caving Production Block 1 yang sudah akan mulai beroperasi di tahun 2027,”
kata Tony dalam rapat dengan Komisi XII DPR di Gedung DPR, Jakarta, dikutip Rabu, 16 September 2026.
Pemulihan Produksi

Pada 2026, PTFI memproyeksikan produksi mencapai 800 juta pound tembaga dan 700 ribu ons emas atau sekitar 21 ton. Produksi tersebut ditargetkan meningkat pada 2027 menjadi 1,3 miliar pound tembaga dan 1 juta ons emas atau sekitar 31 ton.
Kenaikan produksi berlanjut pada 2028. PTFI memproyeksikan produksi emas mencapai 1,3 juta ons atau sekitar 39-40 ton per tahun, sedangkan produksi tembaga mencapai 1,6 miliar pound.
Di tahun 2028 dan seterusnya, itu tembaga akan bisa mencapai 1,6 miliar pound dan juga untuk emasnya bisa 1,3 juta ons atau sekitar 39 sampai 40 ton dan begitu pun seterusnya. Kenaikan tingkat produksi ini sejalan dengan pemulihan GBC yang terkena longsor di tahun yang lalu,”
ujar Tony.
Pemulihan tersebut dilakukan setelah insiden longsoran material basah di area GBC pada September 2025 yang berdampak terhadap produksi Freeport. Pada 2026, volume penambangan masih diproyeksikan berada di bawah kapasitas normal.
2028 Produksi Meroket

PTFI juga memperkirakan produksi bijih tahun ini sekitar 124 ribu ton per hari, atau baru sekitar 65 persen dari kapasitas normal sekitar 200 ribu ton per hari. Volume tersebut ditargetkan naik menjadi 170 ribu ton per hari pada 2027.
Pada 2028, produksi bijih diproyeksikan mencapai sekitar 208 ribu ton per hari atau mendekati kapasitas penuh.
Pemulihan produksi tambang juga mulai berdampak pada operasional smelter baru Freeport di Manyar, Gresik. Smelter tersebut sebelumnya sempat berhenti beroperasi setelah insiden longsor karena pasokan konsentrat yang tersedia hanya mencukupi kebutuhan PT Smelting.
Baru di bulan Agustus yang lalu, feeding-nya ke smelter baru Freeport Indonesia itu mulai, dan mulai bisa diproduksi di bulan September ini dengan sekitar 5 ribu ton katoda tembaga. Dan kalau kita lihat di bulan Oktober, yang 35 ribu ton itu adalah produksi katodat tembaga dari smelter yang baru,”
urai Tony.






