Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Harga Minyak Dunia Mendidih di US$107,82 per Barel, Gangguan Saudi-Libya Bikin Investor Cemas

Harga minyak mentah Brent telah naik 75 persen sepanjang tahun ini. Perang Rusia-Ukraina dan konflik Asia Barat berkontribusi ke inflasi.

Pengeboran minyak lepas pantai.
Pengeboran minyak lepas pantai. (migas.esdm.go.id)

Harga minyak mulai mereda tapi masih di level US$100 per barel setelah mengalami lonjakan besar selama beberapa hari. Saat ini, investor masih mempertimbangkan kekhawatiran terkait pasokan menyusul penangguhan pemuatan minyak oleh Arab Saudi, di pelabuhan Yanbu.

Dilansir dari Economic Times pada Rabu, 16 September 2026 harga minyak mentah Brent turun 93 sen atau 0,86 persen menjadi US$107,82 per barel. Sementara kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 97 sen atau 0,92 persen menjadi US$104,86 per barel.

Kedua patokan harga tersebut sebelumnya naik lebih dari US$3 pada sesi sebelumnya, dan ditutup pada level tertinggi sejak 19 Mei.

Iklan

Harga minyak mentah Brent telah naik sekitar 75 persen sepanjang tahun ini. Perang Rusia-Ukraina, bersama dengan konflik berkepanjangan di Asia Barat, telah berkontribusi terhadap inflasi dan mendorong imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun ke level tertinggi sejak 2007.

Pipa Diserang

Ilustrasi Amerika Serikat dan Arab Saudi serang sekutu Iran.
Ilustrasi Amerika Serikat dan Arab Saudi serang sekutu Iran. (Dibuat oleh AI)

Pemuatan minyak di pelabuhan Yanbu, Arab Saudi, ditangguhkan setelah eksportir minyak mentah terbesar di dunia itu menutup pipa minyak Timur-Barat. Hal itu menyusul serangan pada Jumat oleh kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran.

Pipa tersebut memungkinkan Arab Saudi mengalihkan sekitar 4 juta barel per hari minyak mentah ke pelabuhan di Laut Merah, setara dengan sekitar 4 persen dari pasokan minyak global.

Menteri Energi AS mengatakan bahwa aliran minyak melalui pipa East-West yang sangat penting bagi Arab Saudi seharusnya dapat kembali berjalan dalam beberapa hari.

Namun, Reuters melaporkan bahwa sejumlah sumber memberikan pandangan berbeda mengenai berapa lama gangguan tersebut dapat berlangsung.

Gangguan Bisa 5-6 Minggu

ilustrasi helikopter Aramco di Arab Saudi.
ilustrasi helikopter Aramco di Arab Saudi. (Foto: AI).

Seorang sumber memperkirakan perbaikan dapat memakan waktu lima hingga enam minggu, sementara sumber lain mengatakan pemompaan sebagian dapat dilanjutkan lebih cepat seiring berlanjutnya pekerjaan perbaikan.

Di sisi lain, kegiatan operasi minyak di tiga ladang di Libya telah dihentikan, setelah anggota Petroleum Facilities Guard yang melakukan protes terkait sejumlah persoalan menutup sebuah katup pada pipa ekspor minyak mentah Hamada-Zawiya, menurut National Oil Corporation Libya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.