Harga minyak dunia turun pada perdagangan Jumat, karena para investor mempertimbangkan serangan terbaru antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran. Penurunan juga karena ada tanda-tanda bahwa tambahan minyak mentah Arab Saudi dapat masuk ke pasar global dan membantu meredakan kekhawatiran mengenai pasokan.

Dilansir dari CNBC, pada Jumat 18 September 2026, harga minyak mentah Brent turun 0,94 persen menjadi US$103,83 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 0,88 persen menjadi US$101,01 per barel.

Arab Saudi dan Houthi Saling Serang

Arab Saudi dan kelompok Houthi saling melancarkan serangan baru di sepanjang perbatasan pada Kamis. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah yang semakin meluas dapat semakin mengganggu pasokan energi yang sudah tertekan sejak AS dan Israel menyerang Iran pada Februari.

Pasukan Houthi mengangkat senjata.
Pasukan Houthi mengangkat senjata. (jiss.org.il)

Namun, laporan bahwa Arab Saudi telah menemukan cara alternatif untuk mengirimkan sebagian pasokan minyak mentah ke pembeli di Asia melalui Oman telah membantu meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan yang lebih parah, akibat penutupan pipa utama setelah serangan kelompok Houthi terhadapnya.

Head of Business Development di XS.com, Simon Peter Massabni mengatakan penurunan harga minyak mentah terbaru ini mencerminkan berkurangnya sebagian premi risiko geopolitik, bukan perubahan fundamental pada pasar minyak.

Menurut Massabni, perbaikan logistik ekspor minyak mentah Arab Saudi telah mengurangi perkiraan pasar mengenai jumlah pasokan yang berisiko terganggu. Ia menambahkan, harga minyak tidak hanya mencerminkan jumlah barel yang tersedia, tetapi juga memperhitungkan kemungkinan pasokan tersebut terganggu.

Pasokan Masih Rentan

Petugas melakukan pengawasan tangki timbun bahan bakar minyak (BBM) di Integrated Terminal Jakarta (ITJ), Plumpang, Jakarta Utara, Senin (22/6/2026).
Petugas melakukan pengawasan tangki timbun bahan bakar minyak (BBM) di Integrated Terminal Jakarta (ITJ), Plumpang, Jakarta Utara, Senin (22/6/2026). (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/sgd)

Namun demikian, jaringan pasokan Timur Tengah tetap rentan. Massabni menilai pelaku pasar masih mencermati perkembangan di sekitar Selat Hormuz, jalur ekspor, dan terminal minyak. Kecepatan Arab Saudi dalam memulihkan operasional pipa East-West juga akan menjadi faktor penting.

Massabni memperkirakan harga minyak dalam jangka pendek masih akan lebih sensitif terhadap perkembangan geopolitik dibandingkan indikator tradisional berupa permintaan dan penawaran.

Berlanjutnya aliran minyak Arab Saudi ke Asia dan kemajuan dalam pemulihan pipa East-West dapat memberikan tekanan lebih lanjut terhadap harga minyak. Sementara, gangguan baru terhadap ekspor minyak dari Timur Tengah dapat dengan cepat kembali meningkatkan premi risiko geopolitik.