Bank Indonesia (BI) buka suara mengenai tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman mengatakan pelemahan rupiah terutama dipengaruhi sentimen global yang bergerak berlebihan, termasuk lonjakan harga minyak dunia yang sempat memicu kekhawatiran pasar.
Secara fundamental kita masih cukup bagus, jadi apa yang mempengaruhi rupiah sehingga dia mengalami pelemahan? Itu adalah global yang dia memang overshooting bolak-balik, tiba-tiba dia kemarin pergi ke US$135 oilnya orang semua pada panik,”
ujar Aida dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Rabu, 23 September 2026.
Selain harga minyak, tekanan terhadap rupiah juga terjadi di tengah kenaikan suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
Federal Reserve menaikkan target Federal Funds Rate (FFR) menjadi 3,75%-4,00% pada September 2026. Penguatan indeks dolar AS atau DXY turut menjadi sentimen yang memengaruhi pergerakan rupiah.
Sehingga rupiah mengalami gangguan dari sisi sentimennya,”
jelasnya.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.
BI mengoptimalkan seluruh instrumen moneter, termasuk memperluas kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing, memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA).
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi stabilisasi rupiah yang ditegaskan dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada 22-23 September 2026.
Destry menuturkan, dalam kaitan ini BI telah memperluas transaksi underlying pendanaan luar negeri yang dapat memperoleh insentif pengurangan premi bagi Swap Jual Lindung Nilai (Swap Beli Lindung Nilai kepada Bank Indonesia) dan DNDF.
Kebijakan yang sebelumnya hanya mencakup transaksi portfolio inflows tersebut kini juga mencakup pinjaman luar negeri oleh bank dan foreign direct investment.
Dengan langkah-langkah tersebut, nilai tukar rupiah menguat pada Agustus hingga pertengahan September 2026, meskipun pada perkembangan terakhir mengalami tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian kondisi global,”
ucap Destry.
Berdasarkan data BI, nilai tukar rupiah pada 22 September 2026 tercatat sebesar Rp17.855 per dolar AS, melemah 0,78 persen secara point to point (ptp) dibandingkan dengan level akhir Agustus 2026.
Sementara itu, JISDOR BI pada 23 September 2026 tercatat sebesar Rp17.803 per dolar AS.
Destry memperkirakan nilai tukar rupiah ke depan akan bergerak stabil dengan dukungan komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, inflasi yang terkendali dalam sasaran, serta prospek perekonomian domestik yang tetap baik.
Bank Indonesia akan terus memperkuat berbagai strategi dengan mengoptimalkan seluruh instrumen moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,”
imbuhnya.
Dalam keputusan RDG 22-23 September 2026, BI mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, Deposit Facility 4,75%, dan Lending Facility 6,50%.
BI menyatakan kebijakan tersebut konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.







