Pemerintah membuka peluang memberikan insentif fiskal berupa pembebasan atau pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) dalam periode waktu tertentu alias tax holiday, untuk industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Insentif ini diberikan guna mendongkrak daya saing industri TPT.
CEO Badan Penerima Investasi (BPI) Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengatakan selama ini tax holiday dan tax allowance lebih banyak diberikan untuk jenis investasi baru. Namun, saat ini pemerintah mempertimbangkan memberikan insentif kepada industri tekstil.
Kalau selama ini mungkin tax holiday diberikan, tax allowance juga diberikan kepada jenis investasi yang baru. Nah ini untuk tekstil akan dikonsider untuk diberikan kembali tax holiday, yaitu salah satunya,”
kata Rosan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 23 September 2026.
Dukungan Himbara

Sementara dari sisi perbankan, pemerintah mendorong Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan perbankan nasional untuk memberikan pinjaman kepada industri, terutama untuk memperbaiki mesin yang sudah tua.
Rosan mengakui, saat ini daya saing dari produk TPT masih cukup ketinggalan. Bahkan, perbankan melihat sektor tekstil sebagai sunset industry.
Dulunya dilihat sebagai sunset industri itu juga dikembalikan agar Bank Himbara dan juga Bank Nasional lainnya memberikan pinjaman, terutama dalam rangka perbaikan mesin-mesin yang sudah cukup tua. Karena memang kita bicara masalah daya saing atau competitiveness dari produk tekstil garment kita mungkin yang agak ketinggalan,”
jelasnya.
Daerah Khusus Tekstil

Selain itu, Rosan mengatakan bahwa Danantara akan menyiapkan satu daerah khusus bagi tekstil baik dari hulu ke hilir. Kawasan itu akan dilengkapi dengan berbagi teknologi agar industri tekstil semakin lebih efisien.
Kami di Danantara juga akan menyiapkan satu daerah khusus untuk integrasi dari hulu ke hilir agar lebih efisien dengan menggunakan teknologi yang baik yang benar. Untuk membuat produk-produk kita juga mempunyai daya saing yang lebih baik,”
terangnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa industri TPT memegang peran strategis bagi perekonomian RI.
Airlangga menjelaskan bahwa industri ini berkontribusi sebesar 0,97 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan mampu menyerap 4 juta tenaga kerja, dan mencatatkan kinerja ekspor sebesar US$12 miliar.
Kami sampaikan bahwa tekstil, produk tekstil ini, khususnya di tekstil itu terdiri dari hulu, antara, dan hilir. Sumbangan terhadap PDB sekitar mendekati 1 persen, 0,97 persen,”
jelasnya.
Airlangga mengatakan, industri TPT nasional mampu tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,6 persen. Sedangkan untuk industri barang, kulit, dan alas kaki tumbuh sebesar 8,25 persen.






