Konflik yang meluas di Timur Tengah berpotensi meningkatkan risiko perlambatan ekonomi Indonesia, terutama jika gangguan terhadap jalur perdagangan utama berlangsung selama berbulan-bulan. Tekanan tidak hanya datang dari kenaikan harga minyak, tetapi juga merembet ke biaya logistik, produksi, pangan, investasi hingga daya beli masyarakat.

Pengamat Ekonomi Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita mengatakan besarnya dampak terhadap perekonomian Indonesia akan sangat bergantung pada durasi dan cakupan konflik.

Kalau gangguan hanya temporer, dampaknya lebih banyak berupa kenaikan biaya energi, logistik dan inflasi,”

kata Ronny saat dihubungi Owrite, Senin, 28 September 2026.

Jalur Perdagangan Mampet

Peta Selat Hormuz Iran. (Sumber: Google Map)
Peta Selat Hormuz Iran. (Sumber: Google Map)

Namun, menurut dia, risiko akan menjadi jauh lebih kompleks apabila sejumlah jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz dan Laut Merah terganggu secara bersamaan dalam jangka panjang.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya produksi dan pengiriman barang, memperlambat perdagangan, menahan investasi, serta menekan daya beli masyarakat.

Jika Hormuz, Laut Merah dan jalur perdagangan lain terganggu secara bersamaan selama berbulan-bulan, kita tentu akan menghadapi shock yang lebih kompleks, seperti biaya produksi naik, perdagangan melambat, investasi tertahan dan daya beli tertekan,”

ujarnya.

Ronny menilai kenaikan harga minyak menjadi salah satu saluran utama yang dapat menekan ekonomi Indonesia. Ketika harga energi meningkat, biaya transportasi dan produksi ikut terdorong sehingga berpotensi menciptakan tekanan inflasi yang lebih luas.

Bank Indonesia sebelumnya juga mencatat bahwa gangguan di Selat Hormuz telah memengaruhi rantai pasok serta mendorong kenaikan harga minyak dan sejumlah komoditas global. 

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa konflik yang berlangsung lebih lama dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Manufaktur hingga Pangan Rentan

Harga Kedelai
Pekerja mengangkut tahu yang telah selesai diproduksi di Cipondoh, Kota Tangerang, Banten (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/hma)

Dampak konflik juga berpotensi meluas ke berbagai sektor di luar energi. Ronny menyebut manufaktur, transportasi dan logistik, pertanian serta pangan, industri kimia dan pupuk, hingga pariwisata sebagai sektor yang cukup rentan.

Pada sektor manufaktur, tekanan dapat muncul melalui kenaikan biaya energi, bahan baku, dan ongkos pengiriman atau freight. Sementara sektor transportasi dan logistik menghadapi peningkatan biaya bahan bakar, asuransi, serta pelayaran.

Di sektor pertanian, gangguan jalur perdagangan berpotensi meningkatkan harga pupuk dan berbagai input produksi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat berdampak terhadap biaya produksi pangan.

IMF mencatat sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia biasanya melewati Hormuz, sehingga gangguan di sana bisa merembet ke biaya produksi pangan,”

ujar Ronny.

Sementara itu, sektor pariwisata dapat terdampak melalui gangguan penerbangan dan penurunan mobilitas internasional apabila eskalasi konflik membuat masyarakat maupun pelaku usaha menunda perjalanan.

Dengan demikian, dampak konflik Timur Tengah terhadap Indonesia tidak semata-mata bergantung pada seberapa tinggi harga minyak dunia, tetapi juga pada seberapa lama gangguan rantai pasok dan perdagangan global berlangsung.

Jika konflik hanya berlangsung singkat, tekanan terhadap ekonomi domestik cenderung terkonsentrasi pada energi, logistik dan inflasi. 

Sebaliknya, konflik yang berkepanjangan dan meluas dapat menciptakan tekanan berlapis melalui perdagangan, produksi, investasi, pangan dan konsumsi rumah tangga.