Konflik berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi menekan lapangan kerja dan daya beli masyarakat Indonesia. Dampak tersebut dapat muncul ketika kenaikan biaya produksi mendorong perusahaan mengurangi kapasitas produksi, menunda ekspansi, hingga melakukan penyesuaian tenaga kerja.
Pengamat Ekonomi Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, mengatakan perusahaan yang menghadapi kenaikan biaya memiliki sejumlah pilihan, mulai dari menaikkan harga jual hingga mengurangi produksi.
Perusahaan yang menghadapi kenaikan biaya akan memiliki tiga pilihan, yakni menaikkan harga, mengurangi margin, atau mengurangi produksi,”
kata Ronny kepada Owrite, Selasa, 29 September 2026.
Menurut dia, apabila tekanan biaya berlangsung dalam waktu lama, dampaknya dapat merembet ke pasar tenaga kerja.
Kalau berlangsung lama, pilihan terakhir bisa berujung pada pengurangan jam kerja, penundaan ekspansi, dan bahkan pengurangan tenaga kerja,”
ujarnya.
Biaya Produksi Tekan Pekerja

Di sisi rumah tangga, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), transportasi, pangan, dan barang impor berpotensi menggerus daya beli masyarakat.
Kondisi tersebut dapat semakin menekan konsumsi apabila pendapatan masyarakat tidak meningkat sejalan dengan kenaikan biaya hidup.
Karena itu, risiko terhadap tenaga kerja dan konsumsi justru bisa menjadi efek lanjutan yang lebih serius daripada shock awal di sektor energi,”
tutur Ronny.
Ia juga mengingatkan adanya risiko imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang dan input dari luar negeri. Tekanan tersebut dapat menyebar ke berbagai sektor ekonomi.
Jadi, potensi imported inflation dan second-round effects melalui biaya produksi, transportasi, dan distribusi juga tak bisa diabaikan,”
tegas Ronny.






