Pengamat Ekonomi Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita, menilai bahwa perubahan rantai pasok dan pola perdagangan global akibat konflik di Timur Tengah membawa peluang baru bagi perekonomian Indonesia.
Sejumlah sektor, menurut Ronny, berpotensi memperoleh peluang baru apabila mampu menggantikan pasokan dari kawasan yang terganggu atau menjadi alternatif dalam rantai pasok global, seperti di sektor energi, mineral, manufaktur, pangan hingga jasa logistik.
Ada peluang, terutama bagi sektor yang mampu menggantikan pasokan dari kawasan yang terganggu atau menjadi alternatif dalam rantai pasok global,”
kata Ronny pada Owrite, Selasa, 29 September 2026.
Cuan di Sektor Energi dan Mineral

Menurut dia, Indonesia berpotensi menangkap peluang tersebut melalui perdagangan LNG, komoditas energi dan mineral, manufaktur yang dapat menjadi pemasok alternatif bagi pasar Asia, industri pangan, jasa logistik, serta sektor yang berkaitan dengan diversifikasi rantai pasok.
Bahkan saat ini sudah terlihat perusahaan energi di Asia mulai mencari pemasok dan rute alternatif, termasuk dari Indonesia,”
ujarnya.
Namun, peluang tersebut tidak serta-merta menjadi keuntungan ekonomi bagi Indonesia. Ronny menilai kemampuan Indonesia dalam meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi kebutuhan pasar menjadi faktor penting untuk menangkap pergeseran perdagangan tersebut.
Yang Perlu RI Siapkan

Indonesia, lanjut Ronny, perlu memiliki kapasitas produksi yang memadai, infrastruktur pelabuhan, akses pembiayaan, kepastian regulasi, serta kemampuan memenuhi standar pasar internasional.
Agar benar-benar bisa menangkap relokasi perdagangan tersebut,”
imbuhnya.





