Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Perang Timur Tengah Ganggu Rantai Pasok Global, Kalau Pintar RI Bakal Cuan di Sini

Indonesia mampu menggantikan pasokan dari kawasan yang terganggu atau menjadi alternatif dalam rantai pasok global.

Kapal LNG. (Sumber: Unsplash/Karel Mistrík)
Kapal LNG. (Sumber: Unsplash/Karel Mistrík)

Pengamat Ekonomi Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita, menilai bahwa perubahan rantai pasok dan pola perdagangan global akibat konflik di Timur Tengah membawa peluang baru bagi perekonomian Indonesia. 

Sejumlah sektor, menurut Ronny, berpotensi memperoleh peluang baru apabila mampu menggantikan pasokan dari kawasan yang terganggu atau menjadi alternatif dalam rantai pasok global, seperti di sektor energi, mineral, manufaktur, pangan hingga jasa logistik.

Ada peluang, terutama bagi sektor yang mampu menggantikan pasokan dari kawasan yang terganggu atau menjadi alternatif dalam rantai pasok global,”

kata Ronny pada Owrite, Selasa, 29 September 2026.

Cuan di Sektor Energi dan Mineral

Petugas kilang LNG.
Petugas kilang LNG. (pgnlng.co.id)

Menurut dia, Indonesia berpotensi menangkap peluang tersebut melalui perdagangan LNG, komoditas energi dan mineral, manufaktur yang dapat menjadi pemasok alternatif bagi pasar Asia, industri pangan, jasa logistik, serta sektor yang berkaitan dengan diversifikasi rantai pasok.

Iklan

Bahkan saat ini sudah terlihat perusahaan energi di Asia mulai mencari pemasok dan rute alternatif, termasuk dari Indonesia,”

ujarnya.

Namun, peluang tersebut tidak serta-merta menjadi keuntungan ekonomi bagi Indonesia. Ronny menilai kemampuan Indonesia dalam meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi kebutuhan pasar menjadi faktor penting untuk menangkap pergeseran perdagangan tersebut.

Yang Perlu RI Siapkan

Ilustrasi kapal tanker di pelabuhan. (Sumber: Unsplash/william william)
Ilustrasi kapal tanker di pelabuhan. (Sumber: Unsplash/william william)

Indonesia, lanjut Ronny, perlu memiliki kapasitas produksi yang memadai, infrastruktur pelabuhan, akses pembiayaan, kepastian regulasi, serta kemampuan memenuhi standar pasar internasional.

Agar benar-benar bisa menangkap relokasi perdagangan tersebut,”

imbuhnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.