Bank Indonesia (BI) buka suara terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang kini menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada siang ini, rupiah tercatat melemah 0,20 persen ke level Rp18.014 per dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea mengungkapkan melemahnya rupiah dipengaruhi oleh kekhawatiran kenaikan inflasi, akibat melonjaknya harga minyak dunia. 

Pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal, sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas US$108 per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz,”

kata Erwin dalam keterangan resmi Selasa, 29 September 2026.

Erwin menjelaskan, sentimen tersebut pada akhirnya mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS lebih lanjut. Sehingga, yield UST tenor 10 tahun kembali naik ke level 5,23 persen, atau tertinggi sejak 2007.

Erwin mengungkapkan, pelemahan rupiah hari ini juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir kuartal III-2026, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets.

Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir kuartal III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi,”

jelasnya.

Komitmen Hadir di Pasar

Bursa Saham Global. (Sumber: Unsplash/Anne Nygård)
Bursa Saham Global. (Sumber: Unsplash/Anne Nygård)

Maka dari itu, Erwin menyatakan bahwa BI akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik, dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya. Ia memastikan, akan mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market.

Efektivitas stabilisasi nilai tukar juga diperkuat dan kecukupan likuiditas dijaga dengan meningkatkan insentif untuk instrumen Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Lindung Nilai kepada Bank Indonesia dalam rangka pendanaan luar negeri,”

terangnya.

Erwin menyatakan, intervensi rupiah juga akan dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. 

Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif,”

tuturnya.

Sejalan dengan Kawasan

Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Bank BSI, Jakarta.
Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Bank BSI, Jakarta. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja.)

Kendati demikian, Erwin menilai bahwa pergerakan nilai tukar rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan pelemahan terbatas secara quarter-to-date (qtd) sebesar 0,67 persen.

Erwin mengungkapkan, untuk cadangan devisa tercatat masih naik ke level US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.

Pergerakan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan, dengan pelemahan terbatas secara qtd sebesar 0,67 persen,”

imbuhnya.