Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, harga beras pada September 2026 naik baik ditingkat penggilingan, grosir, hingga eceran. Penyebab kenaikan ini salah satunya karena fenomena El Nino.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan rata-rata harga beras di penggilingan naik baik secara bulanan (month to month/mtm) dan tahunan (year on year/yoy).

Rata-rata harga beras di penggilingan pada bulan September tahun 2026 naik 0,81 persen secara month to month, dan naik 6,04 persen secara year on year-nya,”

kata Ateng dalam konferensi pers dikutip Jumat, 2 Oktober 2026.

Beras Premium Naik Tertinggi

Petugas memeriksa beras kemasan saat melakukan sidak pangan di Denpasar, Bali, Kamis (12/2/2026). (Sumber: Antara Foto/Fikri Yusuf/bar)
Petugas memeriksa beras kemasan saat melakukan sidak pangan di Denpasar, Bali, Kamis (12/2/2026). (Sumber: Antara Foto/Fikri Yusuf/bar)

Ateng menjelaskan, berdasarkan kualitasnya beras di penggilingan jenis premium naik 0,81 persen secara mtm, dan naik 10,52 persen secara yoy.

Untuk beras medium secara month to month naik 0,87 persen, dan secara year on year beras medium naik 4,72 persen,”

ujarnya.

Selanjutnya, untuk tingkat inflasi beras di grosir sebesar 0,61 persen secara mtm dan 4,93 persen secara tahunan. Sedangkan di tingkat eceran terjadi inflasi sebesar 0,80 persen secara mtm, serta sebesar 3,73 persen secara yoy.

Biang Kerok Kenaikan

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono. (Owrite.id/Anisa Aulia)

Ateng menjelaskan, kenaikan harga beras ini utamanya karena habisnya masa panen raya padi.

Untuk kenaikan harga beras pada bulan September 2026 ini, ini terutama dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan beras setelah berakhirnya masa puncak panen raya,”

tuturnya.

Selain itu, penyebab kenaikan harga didorong oleh fenomena El Nino. Kondisi ini turut membatasi petani dari kegiatan untuk menanam.

Ada kondisi kemarau yang tadi kering terkait dengan adanya fenomena El Nino, yang tentunya ini turut membatasi dari kegiatan untuk menanam dan juga terjadi pada beberapa di sentra produksi. Sehingga tadi ada pasokan gabah yang masuk ke penggilingan menjadi tadi ada hambatan atau terbatas,”

imbuhnya.