Pemerintah membuka peluang kerja sama dengan sejumlah perusahaan asal Amerika Serikat (AS) untuk mengembangkan energi hidrogen di Indonesia. Kerja sama tersebut diharapkan dapat mendorong pemanfaatan potensi hidrogen nasional yang selama ini belum optimal.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot mengatakan, pembahasan kerja sama dengan sejumlah perusahaan AS tengah disiapkan.

Kita akan kerja sama juga dengan beberapa perusahaan dari Amerika,”

ujar Yuliot saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026.

Amerika Serikat diketahui tengah mengembangkan hidrogen sebagai salah satu alternatif sumber energi.

Menurut Yuliot, Indonesia memiliki potensi produksi hidrogen yang cukup besar. Namun, kapasitas tersebut belum sepenuhnya terserap untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Berdasarkan data PT PLN (Persero) yang disampaikan Yuliot, produksi hidrogen di Indonesia mencapai sekitar 200 ton per tahun. Sementara itu, pemanfaatannya baru sekitar 75 ton per tahun. Dengan demikian, terdapat surplus produksi sekitar 125 ton per tahun.

Amerika kan mengembangkan hidrogen untuk sumber energi. Kita kan memiliki indikasinya, cadangan hidrogen kan cukup besar. Ini belum kita usahakan. Jadi, kita akan kerja sama,”

ujar Yuliot.

Potensi Besar, Pemanfaatan Minim

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (ketiga kanan) berbincang bersama Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi (kedua kiri), Dirut PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo (kanan), Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian (kedua kanan), Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza (kiri) dan Direktur Teknik dan Fasilitas DAMRI Arifin (ketiga kiri) usai meluncurkan bus bertenaga hydrogen pada acara Global Hydrogen Ecosystem 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Selasa (21/7/2026).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (ketiga kanan) berbincang bersama Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi (kedua kiri), Dirut PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo (kanan), Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian (kedua kanan), Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza (kiri) dan Direktur Teknik dan Fasilitas DAMRI Arifin (ketiga kiri) usai meluncurkan bus bertenaga hydrogen pada acara Global Hydrogen Ecosystem 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Selasa (21/7/2026). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/YU)

Peluang kerja sama tersebut muncul di tengah upaya pemerintah membangun ekosistem hidrogen sebagai bagian dari diversifikasi sumber energi. Pemanfaatan hidrogen dinilai dapat menjadi salah satu opsi dalam transisi menuju energi yang lebih rendah emisi.

Namun, besarnya potensi produksi belum sejalan dengan tingkat pemanfaatan di dalam negeri. Dari total produksi sekitar 200 ton per tahun, baru 75 ton yang terserap untuk kebutuhan domestik. Kondisi ini menunjukkan masih terbukanya ruang untuk memperluas pasar dan penggunaan hidrogen di Indonesia.

Investasi Capai Rp32 Triliun

Kementerian ESDM mencatat terdapat 93 proyek inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen di Indonesia. Total nilai investasi dari berbagai proyek tersebut mencapai sekitar Rp32 triliun.

Besarnya jumlah proyek dan nilai investasi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan hidrogen mulai masuk dalam agenda investasi energi nasional.

Meski demikian, pemerintah masih menghadapi tantangan untuk memperluas pemanfaatan hidrogen dan membangun ekosistem yang terintegrasi, mulai dari sisi produksi, infrastruktur pendukung, hingga pengembangan pasar.