Jumlah perjalanan wisatawan nasional (wisnas) atau warga Indonesia ke luar negeri mengalami penurunan pada Agustus 2026, dan sepanjang tahun ini. Penurunan ini diantaranya karena mahalnya harga tiket pesawat, melemahnya rupiah, hingga tingginya tensi geopolitik.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan jumlah perjalanan masyarakat Indonesia ke luar negeri mencapai 643.693 orang pada Agustus 2026. Angka itu turun baik secara bulanan maupun tahunan.
Pada Agustus 2026 terdapat sebanyak 643,69 ribu perjalanan wisnas. Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 19,81 persen secara month to month atau bulanannya, sedangkan secara tahunan juga mengalami penurunan sebesar 6,02 persen,”
kata Ateng dalam konferensi pers Jumat, 2 Oktober 2026.
Ateng menjelaskan, turunnya jumlah wisnas secara bulanan sebesar 19,81 persen, karena adanya normalisasi mobilitas setelah berakhirnya masa libur sekolah.
Penurunan perjalanan wisnas secara bulanan terutama mencerminkan adanya normalisasi mobilitas secara peak travel season-nya, yaitu di bulan Juni sampai Juli dan berakhirnya liburan sekolah,”
ujarnya.
Nilai Tukar dan Geopolitik

Adapun sepanjang 2026 mulai dari Januari-Agustus 2026, masyarakat Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri mencapai 5.907.812 orang. Jumlah itu turun sebesar 3,56 persen.
Jumlah perjalanan wisatawan nasional atau wisnus selama Januari hingga Agustus tahun 2026 mencapai 5,91 juta perjalanan atau menurun sebesar 3,56 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun yang lalu,”
katanya.
Ateng menjelaskan, turunnya jumlah wisatawan nasional karena turunnya frekuensi penerbangan internasional hingga tingginya harga tiket pesawat.
Pengaruh menurunnya wisnas yang pertama, penurunan frekuensi penerbangan internasionalnya yang berangkat seperti dari Kualanamu mengalami penurunan Kemudian yang kedua ini harga tiket pesawat yang relatif lebih mahal,”
jelasnya.
Selain itu, Ateng menuturkan menurunnya jumlah warga RI ke luar negeri juga karena tekanan nilai tukar rupiah, faktor cuaca, dan kondisi geopolitik yang masih bergejolak.
Nilai tukar rupiah juga. Kemudian juga ada dari faktor cuaca, cuaca yang pada beberapa wilayah dan negara ekstrim, dan juga tentunya ada geopolitik yang secara global yang saat ini terjadi,”
imbuhnya.






