Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkat suara soal kebutuhan air dalam pengembangan pusat data (data center) di Indonesia. Pemerintah memastikan bahwa pembangunan fasilitas tersebut mempertimbangkan daya dukung pasokan air sekaligus ketersediaan listrik di wilayah yang dipilih.
Pernyataan ini disampaikan menyusul adanya kekhawatiran masyarakat mengenai potensi tekanan terhadap ketersediaan air di sekitar kawasan operasional data center.
Data center itu kan membutuhkan dua, itu listrik besar itu dan juga ketersediaan air. Jadi ya kita juga melihat itu pengembangan data center itu sesuai dengan itu potensi listrik dan ketersediaan air,”
ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Senin, 5 Oktober 2026.
Kebutuhan Infrastruktur Dasar

Menurut Yuliot, kebutuhan energi dan air yang besar membuat pembangunan data center perlu disesuaikan dengan kondisi infrastruktur dasar di wilayah masing-masing. Artinya, ekspansi fasilitas digital tidak cukup hanya mempertimbangkan ketersediaan lahan dan sumber listrik, tetapi juga kemampuan daerah menyediakan air secara berkelanjutan.
Di sisi kelistrikan, keandalan pasokan menjadi faktor penting mengingat data center beroperasi dengan kebutuhan listrik besar dan harus menjaga kontinuitas layanan. Kondisi tersebut membuat pilihan sumber energi menjadi bagian dari pembahasan pengembangan industri data center.
Ketika ditanya mengenai peluang pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai salah satu sumber energi untuk menopang kebutuhan listrik data center, Yuliot tidak menutup kemungkinan tersebut.
Mungkin,”
kata Yuliot.
Tawarkan Energi Bersih

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mendorong investor membangun data center di Indonesia. Menurut dia, Indonesia memiliki potensi energi yang dapat menopang kebutuhan listrik industri digital yang terus berkembang. Salah satu potensi tersebut berasal dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Bahlil menyebut potensi tenaga air Sungai Mamberamo di Papua mencapai sekitar 23 gigawatt (GW), sedangkan Sungai Kayan di Kalimantan memiliki potensi sekitar 12 GW.
Ketua Umum Partai Golkar itu melihat kebutuhan energi industri digital yang terus meningkat sebagai peluang bagi Indonesia, terutama ketika sejumlah negara menghadapi tekanan pasokan energi dan kebutuhan terhadap sumber energi baru terbarukan (EBT) semakin besar.
Indonesia dinilai memiliki beragam sumber energi bersih yang dapat dikembangkan, mulai dari tenaga air, surya, panas bumi hingga angin. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas lebih dari 17.000 pulau juga disebut memberikan pilihan lokasi pengembangan energi dan industri.
Ada yang mau membangun di Kalimantan, ada yang di Sumatra. Kalau ada yang butuh tenaga air, PLTA di Papua, di Sungai Mamberamo itu potensinya 23 gigawatt. Kalau di Kalimantan, di Kayan, kurang lebih sekitar 12 gigawatt. Banyak sekali,”
jelasnya.






