Ekonom dan Pengamat Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mengatakan bahwa kelas menengah Indonesia berada dalam posisi yang semakin rentan.
Kelompok ini, menurut Achmad, tidak cukup miskin untuk memperoleh banyak bantuan sosial, tetapi juga belum cukup kuat untuk menghadapi guncangan ekonomi.
Kelompok ini berada dalam posisi paling rentan. Mereka tidak cukup miskin untuk memperoleh banyak bantuan sosial, tetapi juga belum cukup kuat untuk menghadapi PHK, biaya kesehatan besar, kenaikan biaya sekolah, atau cicilan rumah tanpa mengorbankan standar hidup,”
kata Achmad dalam keterangan tertulis, Selasa, 6 Oktober 2026.
Perubahan Pola Hidup

Kerentanan tersebut juga tercermin dari perubahan pola hidup yang mulai dilakukan sebagian kelas menengah. Achmad menilai pola hidup tidak tepat jika hanya dibaca sebagai upaya masyarakat untuk hidup lebih sederhana.
Data BPS menunjukkan sekitar 9,48 juta orang keluar dari kelompok kelas menengah dalam lima tahun hingga 2024. Pada September 2024, kelas menengah hanya mencakup sekitar 17,25 persen penduduk, sementara kelompok menuju kelas menengah mencapai hampir separuh populasi.
Di sisi lain, tekanan terhadap pendapatan juga menjadi persoalan. Bahkan, upah pekerjaan berkeahlian tinggi disebut turun sekitar 2 persen per tahun.
Ini artinya, persoalan utama kelas menengah bukan sekadar inflasi, tetapi pendapatan yang tidak berkembang secepat tuntutan biaya hidup,”
tutur Achmad.
Penghematan

Kondisi tersebut membuat penghematan menjadi pilihan bagi sebagian rumah tangga. Namun, menurut Achmad, penghematan perlu dibedakan.
Ekonomi harus membedakan antara hidup hemat secara sukarela dan berhemat karena pendapatan tidak lagi mencukupi,”
ungkapnya.
Persoalan tersebut juga menunjukkan bahwa tekanan terhadap kelas menengah tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga ketahanan mereka ketika menghadapi guncangan ekonomi.






