Perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen pada kuartal II 2026. Namun, pertumbuhan ekonomi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sebagian masyarakat kelas menengah yang justru mulai mengurangi berbagai pengeluaran untuk mempertahankan kondisi keuangannya.
Ekonom dan Pengamat Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat, mengatakan perubahan itu terlihat dari pola konsumsi masyarakat kelas menengah. Makan di restoran mulai dikurangi, kendaraan dipertahankan lebih lama, liburan ditunda, hingga langganan layanan digital dipangkas.
Fenomena ini tidak tepat dibaca hanya sebagai perubahan gaya hidup. Di balik kebiasaan berhemat terdapat persoalan yang lebih dalam: kemampuan ekonomi sebagian kelas menengah tidak lagi cukup kuat untuk mempertahankan standar hidup sebelumnya,”
kata Achmad dalam keterangan tertulis, Selasa, 6 Oktober 2026.
Data BPS Tak Sama

Padahal, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga masih tumbuh sekitar 5,06 persen dan tetap menjadi salah satu penopang utama produk domestik bruto (PDB).
Namun, Achmad menilai pertumbuhan ekonomi secara agregat tidak selalu menggambarkan pengalaman ekonomi yang dirasakan rumah tangga.
Ia pun mengutip Indonesia Economic Prospects 2026 dari Bank Dunia yang menunjukkan median upah riil Indonesia sepanjang 2018 hingga 2025 cenderung turun sekitar 0,5 persen per tahun. Bahkan, upah pekerjaan berkeahlian tinggi disebut turun sekitar 2 persen per tahun.
Ini artinya, persoalan utama kelas menengah bukan sekadar inflasi, tetapi pendapatan yang tidak berkembang secepat tuntutan biaya hidup,”
ujarnya.
BPS mencatat rata-rata upah buruh pada Mei 2026 sekitar Rp3,39 juta per bulan. Di sisi lain, masyarakat harus menghadapi berbagai kebutuhan seperti pangan, pendidikan, kesehatan, transportasi, dan perumahan.
Tekanan tersebut membuat sebagian kelas menengah mulai menyesuaikan pola pengeluarannya. Rencana membeli rumah semakin mundur, sementara berbagai kebutuhan yang sebelumnya dianggap sebagai bagian dari standar hidup mulai dikurangi atau ditunda.
Perubahan Gaya Hidup

Menurut Achmad, kondisi itu juga menunjukkan adanya persoalan yang lebih besar daripada sekadar perubahan gaya hidup.
Jika kelas menengah secara massal mengurangi konsumsi restoran, kendaraan, rumah, rekreasi dan berbagai jasa, dampaknya dapat menjalar ke ekonomi,”
tekan dia.
Karena itu, pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari angka PDB. Menurut Achmad, pertumbuhan upah riil, kualitas pekerjaan, mobilitas sosial, dan kemampuan rumah tangga mempertahankan standar hidup juga perlu menjadi perhatian.
Indonesia tidak boleh puas hanya karena masyarakat masih bekerja dan ekonomi tetap tumbuh,”
tuturnya.





