Sebuah laporan mencuat yang mengatakan bahwa Israel sedang mempersiapkan aksi militer baru terhadap Iran, baik berkoordinasi dengan AS atau secara independen.

Surat kabar Israel Hayom mengatakan bahwa tentara Israel sedang mempersiapkan potensi serangan terhadap Iran sambil mempertahankan kerja sama intelijen dan operasional dengan militer AS.

Melansir dari Middle East Monitor, Selasa, 6 Oktober 2026, laporan tersebut menyebutkan bahwa Israel juga bersiap untuk tindakan pencegahan terhadap serangan Iran, meskipun laporan itu menilai adanya kemungkinan serangan Israel sebelum pemilihan paruh waktu AS pada November mendatang.

Khawatir Program Nuklir Iran

Ilustrasi instalasi nuklir. (Sumber: Unsplash/Dan Meyers)
Ilustrasi instalasi nuklir. (Sumber: Unsplash/Dan Meyers)

Diketahui, Israel terus memandang program nuklir Iran sebagai masalah besar. Selain itu, situs berita Israel Walla melaporkan bahwa AS sedang bersiap untuk mengirim pasukan dan pesawat tambahan ke Israel dalam beberapa minggu mendatang di tengah persiapan kemungkinan eskalasi di Timur Tengah.

Mengutip sumber keamanan yang tidak disebutkan namanya, Walla mengatakan sekitar 3.000 personel militer AS saat ini ditempatkan di seluruh Israel, termasuk pasukan yang mengoperasikan sistem pertahanan udara serta pilot, awak pendukung, dan personel logistik.

Selain itu, pasukan dan pesawat tambahan AS diperkirakan akan tiba dalam beberapa minggu mendatang seiring dengan Washington memperkuat kehadiran militernya di kawasan tersebut.

Konfrontasi Baru dengan Iran

Gambar ilustrasi Iran vs Israel
Gambar ilustrasi Iran vs Israel (Gambar dibuat oleh AI)

Media itu juga mengatakan bahwa militer Israel terus melakukan persiapan untuk kemungkinan konfrontasi baru dengan Iran atau memburuknya ketegangan regional, sambil mempertahankan koordinasi yang erat dengan Komando Pusat AS (CENTCOM).

Laporan-laporan tersebut muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pada 4 Oktober lalu bahwa Teheran siap untuk melanjutkan diplomasi guna mencapai solusi yang adil bagi kedua negara.

Iran juga menyampaikan tujuh syarat kepada AS melalui mediator Qatar selama pertemuan di sela-sela Sidang Umum PBB pada akhir September terkait pembukaan Selat Hormuz. Namun, Presiden AS Donald Trump menolak persyaratan Iran.