Produksi minyak dari Sumur BN-38 di Lapangan Bunyu, Kalimantan Utara yang merupakan sumur tua milik negara kembali melonjak setelah PT Pertamina EP (PEP) Bunyu Field melakukan well intervention atau intervensi sumur.

Produksi minyak yang sebelumnya hanya sekitar 8 barel meningkat menjadi 733 barel pada awal produksi setelah intervensi dilakukan. Tak hanya minyak, produksi gas dari sumur tersebut juga meningkat menjadi 0,52 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), jauh di atas target 0,10 MMSCFD.

Peningkatan produksi tersebut diperoleh setelah Pertamina melakukan evaluasi terhadap kondisi bawah permukaan Sumur BN-38. Evaluasi dilakukan dengan memperbarui analisis data subsurface, termasuk data saturasi log, untuk memetakan kembali potensi hidrokarbon yang masih tersisa.

Simpan Potensi Besar

PT Pertamina EP (PEP) Bunyu Field melakukan well intervention atau intervensi sumur. (Sumber: Dok. PHI)
PT Pertamina EP (PEP) Bunyu Field melakukan well intervention atau intervensi sumur. (Sumber: Dok. PHI)

Dari evaluasi tersebut, Pertamina menemukan adanya interval J-72 yang masih menyimpan potensi hidrokarbon dan belum diproduksikan secara optimal.

Senior Manager Bunyu Field, Ruri Heriandi, mengatakan temuan tersebut menjadi dasar untuk menentukan strategi intervensi pada Sumur BN-38.

Alhamdulillah, hasil awalnya menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan dan semoga bisa bertahan dalam waktu yang panjang,”

ujar Ruri dalam keterangan tertulisnya, Selasa 6 Oktober 2026.

Salah satu strategi yang dilakukan adalah water shut off dengan mengisolasi sekaligus melakukan penyemenan pada interval yang terindikasi menghasilkan air.

Pertamina kemudian melakukan perforasi pada lapisan top sand untuk mengoptimalkan produksi minyak sekaligus menekan masuknya air ke dalam sumur.

Sumur Lama Dioptimalkan

General Manager Zona 10, Darmapala, mengatakan Pertamina terus mendorong penerapan inovasi dan teknologi dalam pemeliharaan, perbaikan, serta reaktivasi sumur-sumur migas.

Menurut dia, langkah tersebut penting untuk meningkatkan produktivitas, recovery rate, sekaligus memperpanjang usia produksi sumur yang sudah ada.

Keberhasilan well intervention di Sumur BN-38 menunjukkan bahwa optimalisasi aset eksisting dapat memberikan tambahan produksi yang berarti. Upaya seperti ini akan terus kami dorong untuk mengoptimalkan potensi aset yang dimiliki Pertamina,”

ujar Darmapala.

Lapangan Bunyu sendiri merupakan salah satu lapangan migas yang telah memasuki fase mature. Kondisi tersebut membuat optimalisasi sumur eksisting menjadi salah satu strategi untuk mempertahankan produksi tanpa harus selalu mengandalkan pembukaan sumur baru.

PEP Bunyu Field menyatakan akan terus mengoptimalkan potensi lapangan tersebut guna menjaga keberlanjutan produksi migas sekaligus mendukung ketersediaan dan ketahanan energi nasional.